Firasat Bukan Ramalan

Karena ada pertanyaan dan diskusi tentang catatan saya terdahulu di facebook, kiranya perlu saya posting tulisan ini. Kita berdiskusi tentang sebuah hadist dan ramalan jodohku… apakah hadist berikut terkait dengan kemampuan ramalan seorang mukmin? Dan apakah ada hubungannya dengan ramalan jodoh?

Takutlah kalian kepada firasat orang mukmin, karena ia memandang dengan cahaya Allah Azza wa Jalla” (HR Turmudzi).

Firasat yang dimaksud pada hadist tersebut adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam jiwa orang mukmin untuk dapat membedakan antara haq dan batil dan antara yang jujur dan dusta. Firasat itu ada karena ia selalu bersandar pada peraturan2 Islam. Ia akan memandang segala sesuatu dalam kehidupan ini dengan cara pandang dan kacamata Islam. Maka, ketika ada kebatilan dan penyelewengan terhadap islam ia akan mengetahuinya. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki firasat ini mesti ditakuti oleh mereka kaum fasik dan dzalim. Hendaklah mereka menuruti apa yang dikatakannya… karena ia selalu bersandar pada hukum-hukum islam. Peringatan yang ia berikan tentang pedihnya azab Allah benar adanya. Takutilah taati perkataannya untuk kembalilah ke jalan Allah.

Jadi firasat yang dimaksud bukanlah berarti memiliki kemampuan mengetahui suatu keadaan, atau bahkan, meramal masa depan dengan leluasa dan gampang thd semua orang. Bukan itu maksud hadist di atas.

Rasulullah saja tidak dapat meramal, kecuali hal-hal yang diberikan Allah melalui wahyu-Nya. Rasulullah pernah mengatakan bahwa umat Islam akan memenangi persia dan Romawi (al-hadist). Dan beberapa ratus tahun kemudian hal itu terbukti. Namun, sekali lagi itu adalah wahyu dan berita yang Allah berikan melalui Nabi Muhammad.

Rasulullah pun pernah tidak bisa menjawab pertanyaan masyarakat dan menunggu lama datangnya wahyu. Jadi, Rasul tidak bisa meramal… Rasul pun pernah mengalami kekalahan dalam berperang… Jika Rasulullah bisa meramal, niscaya beliau tidak akan melakukan peperangan karena tahu akan kalah. Tapi Rasulullah tidak tahu.

Jika Rasulullah saja tidak tahu dan tidak bisa meramal, mengapa ada dari kita yang bukan Rasul mengaku bisa meramal atau mempercayai ramalan orang?

Hal Ghaib berupa masa depan jodoh kita, hanya Allah yang tahu… Tugas kita berikhtiar. Dalam ikhtiar tersebut kita harus berpegang teguh kepada aturan Allah. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah memberi petunjuk agar selamat dunia dan akhirat. Bukankah itu yang kita cari? Wallahu ‘alam. Ken Ahmad

Selingkuh: Antara Nikmat dan Laknat

Lafal selingkuh berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya. Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong. Dengan makna bahasa ini, kalau mau jujur, sebenarnya dalam diri kita ada bibit-bibit ‘selingkuh’, atau mungkin kita justru sudah terbiasa ber’selingkuh’ tanpa kita menyadarinya. Kita terbiasa tidak ‘jujur’, lidah kita mengatakan A namun hati dan pikiran kita mengatakan yang lain. Kita bilang ‘I Love You’ padahal hati kita bilang ‘I don’t know’ atau yang lain. Per’selingkuh’an seperti ini kalau tidak diatasi, dengan berusaha maksimal dan memohon karunia Allah SWT, niscaya bisa menjadi perselingkuhan yang sebenarnya. Ada kisah ‘selingkuh’ yang kita mungkin berat untuk mengobatinya: Baca lebih lanjut

Kemudahan Menikah dalam Islam

Sebagai gambaran bagaimana Islam memberikan kemudahan untuk menikah, berikut riwayat tentang Sa’id b. Musayyab seorang tabi’in terkemuka di Madinah yang menolak lamaran putra khalifah Abdul Malik ibn Marwan (65 – 86 H), lalu justru menikahkannya dengan seorang duda miskin bernama Abu Wada’ah.

“Abu Wada’ah bercerita kepadaku (tetangganya) , ia menuturkan, “Aku –sebagaimana yang kamu tahu- selalu berada di masjid Rasulullah SAW untuk menuntut ilmu. Aku senantiasa berada di halaqoh Said ibn al-Musayyib, dan aku ikut berdesak-desakan bersama manusia…(Kemudian) dalam beberapa hari aku menghilang dari halaqoh syaikh sehingga ia mencari-cariku dan menyangka aku sakit atau ada sesuatu yang menimpaku…Ia bertanya tentang aku kepada orang-orang di sekelilingnya, namun tidak ada berita yang ia dapatkan dari mereka. Tatkala aku kembali kepadanya setelah beberapa hari, ia menyalamiku dan mengucapkan selamat datang. Ia bertanya, “Dimanakah kamu wahai Abu Wada’ah?” Baca lebih lanjut

Pengertian AURAT

Pengertian aurat

Pengertian aurat dapat dirujuk dari pernyataan Imam Syarbiniy dalam kitab Mughniy al-Muhtaaj, berkata,”Secara literal, aurat bermakna kekurangan dan sesuatu yang menyebabkan celaan. Disebut seperti itu, karena ia akan menyebabkan celaan jika terlihat.“

Baca juga: Menjaga Kehormatan Wanita dengan Memahami Pria

Menurut Istilah pengertian aurat adalah bagian tubuh manusia yang harus ditutupi dan terlarang terlihat oleh orang lain dengan status yang berbeda-beda sesuai kondisi berdasarkan hukum syara.

Berkaitan dengan aurat, terdapat beberapa rincian hukum dalam berbagai kondisi yang disebutkan oleh para ahli Fiqh, yakni: Baca lebih lanjut

Pengertian Khalwat

Banyak orang bilang kalo laki sama perempuan itu gak boleh ber-khalwat… “Haram coy”, gitu katanya. Nah, kalo begitu apa sih pengertian khalwat? Sampe-sampe ikhwan dan akhwat terlarang melakukannya?

Pengertian Khalwat

Pengertian khalwat adalah sebagimana yang dikatakan di dalam kamus al-Muhîth:

واسْتَخْلَى المَلِكَ، فأخْلاهُ، و به، واسْتَخْلَى به، وخَلا به، و إليه، و معه، خَلْواً وخَلاءً وخَلْوَةً سألَه أن يَجْتَمِعَ به في خَلْوَةٍ فَفَعَلَ

Dia meminta berduaan dengan raja, maka raja pun menyendiri dengannya; khalâ bihi, khalâ ilayhi dan khalâ ma’ahu (mashdarnya) khalwan, khalâ’an dan khalwat[an], (maknanya adalah) memintanya untuk bertemu berduaan saja, lalu ia pun melakukannya. Baca lebih lanjut

Ramalan Jodoh: Menakutkan?

Koq takut? Ya. “Aku gak mau kepikiran”, begitulah pengakuan MeyChan duo MAIA tentang ketakutannya terhadap ramalan, terutama ramalan jodoh (detikhot,19/05/2010).

Kalau takut, artinya ia percaya dan gak siap menerima pemberitaan tentang masa depan jodohnya. Tapi gak tau juga sih, hanya dia yang tau (iya nih, jadi so tahu, astaghfirulah).

Tapi, kalo dipikir-pikir ngapain mesti takut dengan ramalan ya, bro? Emangnya seberapa akurat ramalan jodoh itu? Terus, bagaimana hukumnya bagi kita-kita yang percaya dengan ramalan?

To the point aja deh, bahwa yang namanya ramalan itu gak bisa dipercaya alias bohong, karena Allah telah berfirman, “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml : 65). Tidak terkecuali seorang dukun atau paranormal, serta prediksi zodiak, semuanya tidak bisa mengetahui perkara ghaib. Artinya, ramalan-ramalan mereka itu hanya bersifat dugaan dan tidak dapat dipercaya. Baca lebih lanjut

Mudik: Peluang Bertemu Jodoh

Lagi musim mudik euy! Kesempatan neh, saya coba bikin postingan tentang hubungan mudik dengan peluang jodoh. Wahhh.. emang ada hubungannya tho? Ada bro, simak dan geber  aja tulisan ini sampe abis! Mudah-mudah ketemu hubungannya… (wah, rada maksa neh! Hehe)

Tulisan ini gak maksain koq, mudik dan peluang jodoh itu memiliki hubungan yang erat. Saya katakan begitu, bukan tanpa dasar. Baik secara dalil syar’i ataupun realita, sepertinya mudik dan peluang jodoh ada kaitannya. Baca lebih lanjut

Ingat Ibu dan Saudaramu Sebelum Zina

Orang bilang, yang namanya maksiat walau mahal dan penuh resiko dunia akhirat, tetap aja menantang dan asyik untuk dilakukan. Namun, kalo berurusan dengan amal ibadah (walau murah, mendatangkan berkah dan membawa keselamatan bagi pelakunya) kadang masih malas kita untuk melakukannya.

Kita juga tau, bahwa zina adalah dosa besar dan termasuk perbuatan keji. Namun terkadang, hal itu gak membuat orang mau meninggalkannya. Nah, sekedar sharing (sekaligus untuk menasihati saya pribadi sebagai penulis) ada tips yang pernah diberikan oleh nabi Muhammad Saw kepada seorang pemuda, saat ia hendak melakukan zina. Inilah kisahnya… Baca lebih lanjut

Menjaga Kehormatan Wanita dengan Memahami Pria

menjaga kehormatan wanitaSatu saat ada cewek cerita ke Tabir Jodoh. Ia mengatakan, setelah dua bulan pacaran dalam rangka mencari jodoh, sang pacar memaksanya untuk melakukan kissing (idih, genit juga tuh cowok). Berulang kali ajakan itu dilakukan pacarnya. Dengan getol ia ngelobi supaya tuh cewek mau di di-kiss (alamak, udah gak tahan ya bro?). Tapi alhamdulillah, walau cewek tuh sangat mencintai pacarnya, ia masih bisa control diri dan menolak setiap ajakan mesum dari pacarnya.  Pada akhirnya, dengan berat hati, cewek itu memutuskan sang pacar karena perilakunya yang agak-agak hot. Bukannya tak cinta lagi, tapi itu dilakukan untuk menjaga kehormatannya. Baca lebih lanjut

Masihkah Perjaka dan Perawan Dirimu?

Ini nyata, ketika ditanya tentang keperjakaan, ada yang jawab, “Sett dach, keperjakaan dipertanyakan…? Hari gini gitu loch… lebih baik tanya seberapa tebel dompetnya!” Gubrakss… kasian amat si Jack (perjaka) di anggap tak berharga (tenang Jack, ada Allah koq).

Kalo keperawanan penting gak? Nah, di sini kadang jawabannya gak adil. Masyarakat sendiri cenderung lebih mentolelir keperjakaan daripada keperawanan (mungkin kalo keperjakaan gak ada bekasnya kali ya? hihi). Cowok pun sering menilai berharganya seorang cewek dilihat dari ukuran “perawan” or  gak. Selalu aja keperawanan itu menjadi sesuatu yang sangat dipuja-puja para pria. Bagi cewek, keperjakaan seorang cowok juga sangat penting, tapi gak terlalu membuatnya jadi masalah. Makanya, keperawanan lebih sakral dibanding keperjakaan.

Namun, sekarang pandangan  masyarakat mau lebih bersikap adil terhadap keperawanan dan keperjakaan. Sekarang mereka menilai dua-duanya gak penting. Baik keperawanan ataupun keperjakaan gak usah dipermasalahkan. Adil kan? (Astaghfirullah… bisa aja nih, akal-akalan setan).

Sebelum dilanjut, kita bedah dulu nih, apa yang dimaksud dengan keperawanan dan keperjakaan? Masihkah kita perwaan or perjaka? Baca lebih lanjut

Tips Langgeng Jodoh

Gak kebayang ya, kalo kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi. Misalkan harus putus dengan pasangan hidup yang telah berikrar untuk sehidup semati, baik suka maupun duka. Kalo itu terjadi, kayanya lebih baik minum baygon untuk mengakhiri hidup ini (Ck ck ck.. begitulah cinta, deritanya tiada akhir… Ti Pat Kay mode on).

Mungkin aja, bagi mereka yang lagi hot-hotnya jatuh cinta, atau bagi para pengantin baru… sepertinya mustahil kalo berpisah. Gak bakalan mau pisah walau disuap pake duit 2 ribu (kecil amat, dasar pelit… hihi). Baca lebih lanjut

Menjauhi Zina

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” ( QS. Al Isra’: 32 ).

Ayat ini mengharamkan mendekati zina, larangan untuk melakukan zina jelas lebih keras lagi. Zina disebut sebagai “fâhisyah” yakni perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan diakui kekejiannya oleh setiap orang yang berakal, bahkan oleh sebagian banyak binatang, sebagaimana riwayat ‘Amru bin Maimun r. a ia berkata:

رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ

“Aku pernah melihat di zaman jahiliyyah seekor monyet sedang dikerumuni oleh monyet-monyet lainnya. Monyet itu telah berzina lalu monyet-monyet lain merajamnya (melempari dengan batu) dan aku ikut merajamnya bersama mereka”. [HR. Bukhari, No. 3560]. Baca lebih lanjut

Jenuh Mencari Jodoh

Alhamdulillah… saya bisa menjumpai sobat TJ (Tabir Jodoh) lagi. Setelah satu minggu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan ini, akhirnya saya kini bisa nulis kembali tentang jenuh mencari jodoh (uh, so sibuk en so penting bangets ya… hehe). Mudah-mudahan sobat TJ dalam kondisi yang sehat wal afiat dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Amin

Kita bahas cinta dan jodoh lagi neh! Jenuh gak ya? cinta lagi, jodoh lagi… Mungkin aja jenuh, apalagi bagi para pencari cinta yang belum juga dapat mewujudkan impian menuju keindahan dunia yang di janjikan (baca: menikah). Padahal, beberapa saran dan tips mencari jodoh mungkin sudah banyak dipelajari, tapi hasilnya nihil. Baca lebih lanjut

Memelihara Kepekaan Cinta

kiat mendapatkan jodohCatatan Ini penting bagi mereka yang sedang mempersiapkan diri dan menanti datangnya jodoh. Ilmu tentang cinta yang terpelihara…

Baiklah sobat, kali ini saya mencoba untuk membahas tentang penyebab matinya cinta… Ketika cinta yang engkau berikan tak berarti sedikit pun bagi pasangan… lantas, apa penyebabnya? Langsung aja bro, kita meluncur ke TKP.

Menarik, apa yang diungkapkan psikolog tentang apa yang mereka teliti mengenai penyebab kehancuran sebuah perkawinan. Psikolog L.K White dan Schoen yang dikutip oleh M. Fauzil adhim dari Papalia & Olds, 1995 (Wah, panjang bener riwayatnya :)), mereka mengatakan bahwa ada dua hal yang secara meyakinkan penyebab kehancuran sebuah pernikahan. Yaitu, pertama, hidup bersama sebelum menikah, dan kedua, melahirkan sebelum menikah alias NBA (Nikah Bunting duluAn :)). Baca lebih lanjut

Menikah, Lebih dari Sekedar Cinta

Menikah, tidak sekedar nikmat… kita juga mesti tahu bahwa banyak kepahitan yang mungkin akan kita temui kelak. Bukti pahitnya dunia setelah nikah, banyak rumah tangga yang cekcok dan pada akhirnya memutuskan untuk bercerai. Padahal, bisa jadi sebelum menikah mereka saling mencintai. Nah, pada pembahasan kali ini kucoba menulis tentang cinta dalam pernikahan… mengapa cinta saja tidak cukup menjadi bekal pernikahan? Yuk, tarik mang!

Diantara jenis cinta adalah cinta yang bangkit karena ketertarikan fisik, dorongan seksual dan erotisme. Inilah cinta buta, cinta yang memabukkan dan membuat orang tak sadarkan diri. Cinta yang dikendalikan oleh nafsu, bukan pikiran dan keimanan. Inilah cinta yang memiliki komitmen rendah. Baca lebih lanjut

Yang Ngebet Nikah, Kuatkan Tekadmu!

Sobat ikhwan sekalian… apa yang menghalangimu untuk menikah? Setelah ku bertanya demikian ke beberapa ikhwan, mereka menjawab, “aku takut gak bisa ngasih makan istriku kelak”.

Dari sekian banyak ikhwan, itulah jawaban mayoritas ikhwan. Perasaan ikhwan secara umum mungkin demikian, khawatir dan takut gak bisa memberi nafkah ketika menikah… makanya, mereka nunggu harta kumpul dulu.

Padahal, setelah bertahun-tahun cari harta tetep aja belom sukses. Akhirnya, harta gak dapet, istri juga gak ke-gaet, sedangkan umur udah semakin mepet. Wk wk wk.. Baca lebih lanjut

Tips Menjaga Kesucian Wanita, Sebelum Jodoh Menghampiri

Kali ini kucoba tuliskan sebuah tips untuk melengkapi tulisanku sebelumnya disini dan yang ini

Wanita itu memang indah… keindahannya mengundang kumbang-kumbang untuk menghampirinya. Wanita itu lembut… kelembutannya mampu memantik jiwa-jiwa lelaki yang sedang kehausan cinta dan kasih sayang . Wanita itu cantik dan “putih”… putihnya itu membuat rentan terhadap debu-debu kotoran.

Oleh karena itu, coba simak beberapa tips berikut untuk menjaga wanita tetap suci. Baca lebih lanjut

Tanda Wanita Jatuh Cinta

Meski wanita tercipta dari tulang rusuk lelaki, namun tak mudah bagi lelaki untuk memahaminya… Ia begitu lembut, selembut gerak-geriknya yang tak mudah terbaca. Ia begitu pemalu, semalu kata-katanya yang tak mudah mengungkapkan. Ia begitu cantik, secantik triknya menyembunyikan isi hati.

Begitu pula, KETIKA WANITA JATUH CINTA… Rasa kagumnyakepada lelaki, bisa ia ekspresikan dengan mencibirnya… Rasa cinta pada ikhwan ditafsirkan orang bahwa ia membencinya… Agak aneh memang, lain hati lain pula perbuatan.

Begitu misterinya, banyak yang memberikan tips untukmengetahui tanda KETIKA WANITA JATUH CINTA. Diantara tanda-tanda ketika wanita jatuh cinta adalah: Baca lebih lanjut

Khusu Memohon Jodoh di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum sobat TJ, akhirnya hari ketiga Ramadhan berlalu sudah. Mudah-mudahan tetep semangat ibadahnya. Jangan kaya ramadhan sebelumnya, rajin awalnya doank… hari berikutnya rada-rada males ngelakuin ibadah… Tarawih mulai kendor, bawaannya ngantuk! Apalagi di TV acaranya lebih seru daripada di masjid yang cuma dengerin kultum dan shalat taraweh berjama’ah… lemes n bete dah!  Tadarus juga terasa berat, terlanjur udah balas dendam dan tak terkendali dengan makanan… dua mangkok kolak en satu piring nasi plus rombongannya bikin perut kekenyangan. Akibatnya, mata ini cepet belekan (ngantuk) kalo ngeliatin al-quran lembar demi lembar. Terus, saat sahur dibanguninnya juga susah banget… setelah emak-nya teriak-teriak  sambil bawa seember air, baru deh cepet-cepet bangun ikutan sahur (takut diguyur ya bro? Padahal, makan sahurnya paling banyak tuh diantara yang lain, gak malu apa bro? hehe..) Baca lebih lanjut

Saat Bingung Memilih Jodoh

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya ‘kufu’ ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, “Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan.” Baca lebih lanjut

Sabar Menanti Jodoh

Sahabat, sikap sabar menanti jodoh ternyata telah dianjurkan dalam Islam, sebagaimana kisah yang terdapat dalam Al-Quran di bawah ini.

“Oh ibu, usiaku sudah lanjut, namun belum datang seorang pemuda pun meminangku? Apakah aku akan menjadi perawan seumur hidup?” Kira-kira begitulah keluhan seorang gadis Mekah yang menunggu jodohnya. Ia berasal dari Bani Ma’zhum yang kaya raya.

Mendengar rintihan si anak, ibunya yang teramat kasih dan sayang kepada anaknya lantas kalang kabut ke sana ke mari untuk mencari jodoh buat si puteri. Pelbagai ahli nujum dan dukun ditemuinya, ia tidak peduli berapa saja uang yang harus keluar dari saku, yang penting anaknya yang cuma seorang itu dapat bertemu jodoh.

Namun sayang usaha si ibu tidak juga menampakkan hasilnya. Buktinya, janji-janji sang dukun cuma bualan kosong belaka. Sekian lama mereka menunggu jejaka datang melamar, akan tetapi yang ditunggu tidak pernah nampak batang hidungnya. Baca lebih lanjut

Memasuki Relung Cinta

Cinta… menggerakkan aku, kami, dia, kamu dan  mereka untuk berbuat kebaikan. Cinta… dapat meluluhkan hati yang keras menjadi lunak, yang tak berperasaan menjadi mudah terharu, yang cuek menjadi simpati dan yang suka mengejek menjadi empati.

Cinta… begitu indah maknamu, begitu segar belaianmu, begitu energik getaranmu. Cinta… kepolosanmu menembus keraguan dan prasangka… menerjang kesombongan.. meruntuhkan keangkuhan. Cinta… menenangkan jiwa, membuat sadar arti kesalahan.

Kuharap benih cinta hadir kembali dalam jiwa ini. Gersang dan angkuhnya jiwa kerap membuat orang terluka, menganggap remeh kebaikan Tuhan dan  mengabaikan keramahan insan. Sangat terasa, angkuh berarti  kehilangan benih cinta. Baca lebih lanjut

Tak Cantik, Tak Ada yang Melirik?

“Kecewa… Saat main bersama, temanku lebih banyak diingini pria. Sedangkan aku, disapa pun tidak. Sekalinya ngajak bicara, sang pria hanya minta nomor kontak temanku yang dianggap lebih cantik.  Hingga kini, aku masih sendiri… lelaki dambaan hati yang bisa menemani hari-hariku tak kunjung tiba. Wajar, aku wanita biasa… tak cantik dan tak ada yang istimewa. Oh,  Tuhan… betapa malang nasibku. Hati ini tambah gelisah, saat teman-teman satu per satu memasuki dunia barunya… sedangkan aku masih seperti dulu. Desakan keluarga dan lingkungan yang menginginkan aku segera menikah, telah menambah beban hidupku. Tolonglah aku ya Allah…” Baca lebih lanjut

Ikhwan Bercincin Besi (Bagian 3)

Suatu hari, hujan deras memaksa sang ikhwan berteduh di sebuah gedung tua. Sang ikhwan baru pulang kerja. Itu adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan. Di situ, ia menyaksikan seorang lelaki buta dituntun oleh seorang wanita. Mereka mencari tempat duduk untuk berteduh. Di sudut gedung tua itu, sang wanita menyeka air hujan yang mengenai wajah si buta. Begitu penuh kasih sayang di antara keduanya. Si Buta paruh baya itu beristrikan seorang muslimah muda nan cantik.

“Subhanallah, Allah Maha Pemberi Rahmat (kasih sayang), bahkan si buta pun tak luput dari kasih sayangMu ya Allah”, Sang ikhwan terharu dan tersadar betapa besar kasih sayang Allah terhadap hambaNya.

Beberapa saat yang lalu, ia sempat trauma, putus asa, dan lupa akan rahmat Allah. Bahkan pernah tersisip niat tak akan menikah. Padahal Allah berfirman, “Janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidakberputus asa terhadap rahmat Allah kecuali orang-orang yg kafir” (Yusuf:87)

Satu minggu kemudian, sang ikhwan mendapat undangan menghadiri rapat kerja tahunan organisasi dakwah di kampusnya. Sebagai mantan pengurus, ia tentu merasa penting untuk datang.

Saat acara berlangsung, seorang wanita tergopoh-gopoh membawa sekardus makanan. Ia kemudian menyerahkan satu paket konsumsi tersebut ke panitia laki-laki. Sang ikhwan sesaat melihat wanita tersebut, lalu ia termenung…

“wanita pembawa konsumsi tadi serasa tak asing, hm… Ya Allah! Bukankah ia adalah wanita yang kulihat tempo hari bersama suaminya yang buta? Ternyata dia seorang mahasiswi”, sang ikhwan terkejut membatin.

“Sssssttt… koq kamu memperhatian akwat pembawa konsumsi itu terus? Kalau suka lamar aja walaupun belum tentu diterima, hehe.. Saingan ente pasti banyak kalo mau melamar dia”, kata kawannya yang masih jadi mahasiswa.

Sang ikhwan terperanjat… “Astaghfirullah, saya tidak sengaja.. semoga Allah mengampuni dosa saya karena tidak menundukkan pandangan terhadap wanita itu. Saya cuma heran dengan akhwat itu, bukankah dia sudah menikah… saya pernah melihat ia bersama suaminya yang, maaf, buta. Tadi aku dengar ente bilang kalo suka dia, dilamar aja? Gak salah tuh, melamar istri orang?” Tanya sang ikhwan penuh heran.

“Weitttttss.. sembarangan ente, wanita muda n cantik gitu dibilang udah punya suami.. yang ente Maksud itu pasti bapaknya bukan suaminya… Wk wk wk wk…”, sang ikhwan menjadi bahan tertawaan kawannya.

“Masya Allah, saya salah sangka donk…”, Sang ikhwan sedikit malu terhadap kawannya itu. Namun, justru berawal dari situ, ia semakin terkesan dengan akhwat pembawa konsumsi itu. Apalagi sang ikhwan memang sedang melakukan pemburuan.. memburu jodoh yang tak kunjung datang.

Walau banyak pesaing, sang ikhwan takan gentar. Ia akan tetap berusaha dan bertawakal memburu targetnya. Kali ini: akhwat pembawa konsumsi.

Setelah mendapatkan info alamat e mail akhwat yang diburunya, sang ikhwan langsung mengirimkan surat:

Kepada YTH

Calon istri saya, Calon ibu anak-anak saya, dan Calon bidadari surgaku
Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya seorang yang menginginkan ukhti untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Singkat cerita, akhwat puteri seorang lelaki buta itu pun menerima dan telah men-komunikasikan dengan kedua orang tuanya. Orang tua akhwat ini sangat mengerti agama… walau ia tahu bahwa sang ikhwan adalah lelaki sederhana, mereka dengan terbuka dan senang hati menerimanya.

“Sebulan lagi, kita langsungkan pernikahan. Bukankah Rasulullah menyerukan untuk menyegerakan pernikahan jika jodoh sudah datang?” Ayah yang buta itu menodong langsung sang ikhwan untuk menikahi puterinya.

“Baiklah, Insya Allah saya terima tantangan bapak”, jawab sang ikhwan penuh keyakinan, walaupun sebenarnya ia merasa kaget dan tidak sangka akan secepat itu.

Sang ikhwan tak punya uang… Uang gajinya bulan ini sudah ia kirimkan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya.

Menjelang hari pernikahan, sang ikhwan hanya mampu membayar uang administrasi KUA. Uang sisa hanya Rp 50 ribu. Sang akhwat memang tidak meminta apa-apa. Ia hanya meminta cincin kawin sebagai saksi pernikahannya. Dengan uang Rp 50 ribu, sang ikhwan jalan-jalan mencari sesutu yang bisa dijadikan sebagai mas kawin. Tepat di pinggir jalan, ia melihat tukang aksesoris menjajakan barang-barangnya. Mata sang ikhwan langsung tertuju pada sepasang cincin besi, ia menawar dan membelinya.

“Ukhti, cincin ini sebagai tanda ikatan perkawinan kita… memang tak seberapa, harganya pun cuma Rp 30 ribu. Namun, jangan dipandang dari harganya…lihatlah itu sebagai symbol akad nikah yang akan kuucapkan atas nama Allah. Akad suci mitsaqon ghalida (perjanjian yang kuat). Akad yang Allah anggap setara dengan perjanjian antara Allah dengan para nabi dan RasulNya. Cincin ini menjadi saksi perjanjian kuat tersebut. Semoga engkau menerimanya”, tulis sang ikhwan di kertas yang ia kirimkan beserta sepasang cincin, dua hari sebelum pernikahan.

Sang akhwat mengirimkan sms:
“Akhi, cincinnya sudah saya terima. Aku hanya bisa menangis terharu dan bahagia menerimanya. Semoga Allah mempersatukan kita di dunia maupun di akhirat. Aku sudah mantap akan mengarungi kehidupan bersama akhi. Sampai jumpa di pelaminan. Calon istrimu.”

Pernikahan sederhana penuh barokah terlaksana sudah. Mereka kini hidup bahagia dengan satu orang putera. Kehidupan ekonominya telah membaik. Mereka bersama merintis bisnis. Cincin besi itu pun hingga kini masih melingkar di jari suami-istri tersebut. (Ken Ahmad)

ikhwan Bercincin Besi (bagian 2)

Kawan-kawan memberi info tentang seorang akhwat. Mereka menjulukinya akhwat C4. Sesuai julukannya, ia bisa meledakkan jantung seseorang sampai berdetak kencang hingga melelehkan mata pria yang memandangnya. C4 itu bukan bahan peledak seperti yang kita kenal, namun C4 singkatan dari CANTIK luar dalam, CUEK, CALM and CONFIDENT. Tidak tahu siapa yang pertama kali memberi julukan.

Yang jelas, akhwat itu dikagumi banyak lelaki karena C4-nya. Tapi, pria-pria tidak ada yang berani kurang ajar. Busana muslimah yang dikenakannya membuat orang segan. Ditambah, C4 tidak pernah menanggapi dan memberi harapan pria yang jatuh hati padanya. Hati C4 seolah tertutup rapat dari rayuan gombal para lelaki. Dia adalah seorang mahasiswi Fakultas MIPA semester akhir di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Dengar-dengar, C4 sudah siap menikah dan sedang menanti lelaki melamarnya.

Gayung bersambut… sang ikhwan menanggapinya dengan antusias. “Mungkin saja Allah mengirimkan dia untuk menemani hidupku, membasahi kegersangan hatiku, serta penyejuk duniaku. Tidak ada yang tahu sebelum aku mencobanya”, sang ikhwan berkata dalam hati dengan penuh harap.

Cukup bernyali, ikhwan miskin ini memimpikan seorang bidadari yang cantik, kaya dan banyak pengagumnya. Sedangkan sang ikhwan hanyalah seorang pengembara penuh derita… yang tak cukup harta bahkan kadang terancam nyawa. Tak ada cewek-cewek yang meliriknya. Namun, mental penakluk dunia telah menancap kuat sejak kepergian orang tua. Tak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Semua manusia sama derajatnya, baik miskin atau kaya, baik cantik ataupun buruk rupa. Yang membedakan dan memuliakan manusia hanyalah ketakwaannya. Ternyata itu yang membuat nyalinya bak singa di gurun sahara.

Proses ta’aruf pun dijalani dengan perantara guru ngaji sang ikhwan, Ustadz Hanif.

C4 melihat biodata lelaki yang akan meminangnya. “Baru lulus kuliah, belum dapat pekerjaan. Tapi, sepertinya ikhwan ini komitmen dan ia pasti bertanggung jawab menafkahi keluarga. Dialah yang paling berani diantara lelaki yang mencoba meminangku”, C4 termenung sendiri dalam hati. Secara tak sadar, ia telah mengagumi sang ikhwan.

“Apakah ukhti menerima pinangan ini?” Pertanyaan Ust. Hanif secara tiba-tiba mengejutkan C4 yang sedang bergumam sendiri.

Rona wajah C4 terlihat memerah… begitu natural tampak kecantikannya. Terlihat salting, C4 kemudian hanya tersenyum tersipu malu dan sedikit menganggukkan kepala.

Melihat kode jawaban C4, Sang Ikhwan langsung memeluk Ust. Hanif. Ia tak bisa memendam rasa bahagia itu. “Alhamdulillah, Allah mulai tunjukkan siapa jodoh saya”, sang ikhwan mengucap syukur. Sungguh tak disangka pinangannya akan diterima.

Keakraban telah tampak antara Sang ikhwan dan keluarga C4. Rencana pernikahan mulai dibicarakan. Orang tua C4 meminta 6 bulan untuk persiapan nikah sekaligus memberikan kesempatan C4 menyelesaikan skripsinya.

Sebelum pernikahan, keluarga C4 harus mengunjungi keluarga sang ikhwan.

Hari kunjungan tersebut telah ditentukan. Memang, saat pinangan, keluarga C4 tidak terlalu banyak bertanya kondisi ekonomi sang ikhwan. Sang ikhwan pun tidak banyak cerita hal itu, akibat terlena dan terlalu bahagia. Sepertinya mereka sudah percaya sepenuhnya, karena sang ikhwan seorang sarjana.

Sang ikhwan tak punya rumah. Ia jadikan rumah kakaknya sebagai tempat kunjungan keluarga C4. Rumah sempit dan banyak penghuninya.

Dengan menggunakan Mobil Kijang Inova, tibalah keluarga C4 di rumah keluarga Sang ikhwan.

Sang ikhwan mulai tak enak hati. Keluarga C4 enggan turun dari mobil untuk memasuki rumah. Hampir setengah jam mereka terdiam dalam mobil. C4 akhirnya mendesak ortu dan rombongan untuk turun menemui keluarga sang ikhwan. Di dalam rumah, ortu C4 tampak dingin, tidak bersikap seperti biasanya.

Ketika memasuki rumah sempit itu, Sang ikhwan mulai menangkap kekecewaan di raut wajah orang tua C4. Dengan basa-basi Ayah C4 berucap kepada kakak sang ikhwan, “pinangan ini belum tentu jadi ya, ini ‘kan baru proses pengenalan”.

Deg. Deg. Deg. Denyut jantung sang ikhwan terhentak oleh ucapan Ayah C4. Ia tak bisa berkata sepatah pun… Ia hanya ingat ortu C4 akan menikahkan dengan putrinya pada tanggal yang telah ditentukan.

“Mengapa meraka berubah? Apa karena kini aku tampak fakir di hadapan mereka? Tapi sudahlah, saya tidak boleh berburuk sangka”, sang ikhwan berusaha menenangkan diri.

Tiga hari setelah kunjungan keluaga C4, usai shalat subuh tiba-tiba terdengar nada pesan. Rupanya sms dari C4 untuk Sang ikhwan, isinya:

“Akhi, jka saya memilih satu diantara dua pilihan, yaitu nikah atau meneruskan kuliah.. kemudian saya putuskan untuk memilih melanjutkan kuliah S2, bagaimana menurut akhi? Ini sudah keputusan keluarga”.

SMS itu semakin menguatkan firasat sang ikhwan… Ia menyadari keluarga C4 tidak menyukainya setelah hari kunjungan kemarin. Sms ini adalah penolakan pinangan secara halus.

Sang ikhwan kemudian membalas sms-nya:
“Demi Allah yang dapat menentukan segala hal, sesungguhnya Allah telah menggariskan jodoh seseorang. Jika engkau bukan jodohku, ini adalah ketetapanNya. Jika karena kemiskinanku, aku dihinakan, ini juga keputusanNya. Allah telah menguji keimananku. Inilah takdir yang Allah berikan. Allah mengetahui mana yang terbaik. Boleh jadi aku menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagiku. Boleh jadi aku membenci sesuatu padahal ia amat baik bagiku. Allah mengetahui, sedang aku tidak mengetahui. Mohon maaf jika ada kesalahan selama kita ta’aruf. Semoga Allah berikan jodoh yang terbaik untukmu. Wassalam.”

Tiga bulan kemudian, C4 resmi menikah dengan lelaki lain. Studi S2 yang menjadi alasan batalnya pinangan, hanyalah alibi. Itu hanya rencana untuk membatalkan pinangan.

Sang ikhwan hanya berpasrah diri terhadap ujian yang menimpanya. Luka lama ditinggal kedua orang tua seolah menganga kembali. Kini ia merasa dihinakan karena kemiskinannya oleh orang yang ia cintai. Trauma menghinggapi jiwanya. Tak ada lagi impian tentang cinta. Bersambung ke bagian 3…. (Ken Ahmad)

Inspirasi Ahmad Dhani-Dewi Persik nan Vulgar

Media memang tak pernah memikirkan dampak buruk dari apa yang telah diberitakannya. Nah, belum lama ini bro, puluhan anak-anak menjadi korban pemerkosaan. Mungkin agan-agan en sahabat TJ sudah tahu maksud ane.  Hal ini diduga kuat sebagai akibat vidio porno mirip pasangan artis papan atas yang beredar di internet dan diberitakan secara massif oleh media. Ternyata, itu menjadi inspirasi bagi pelaku untuk melakukan pemerkosaan. Hm.. kalo masalah kaya gituan memang mudah dan asyik untuk ditiru ya?  Ya, asyik kalo gak inget neraka bro! Nampaknya kasus ini banyak mendapat kecaman dari masyarakat dan mendapat perhatian kepolisian.

Tapi, masyarakat dan polisi  sepertinya luput  nih dari potensi bahaya lain.  Apa tuch bro? Coba perhatikan petikan kalimat: “diam-diam aku mengagumimu, diam-diam aku memikirkanmu, dari dulu tubuhku memilih tubuhmu untuk ku kecup dan ku peluk, untuk ku dekap dan ku cumbu.” Ihhhh, vulgar en porno abis dach itu  kalimat. Pasti agan-agan gak asing lagi dengan tuh petikan lirik lagu yang sedang nge-tren belakangan ini. Nah, apa jadinya jika hal itu diperdengarkan terus kepada generasi muda, remaja-remaja di negeri ini? Secara tidak langsung, lirik lagu itu mengajak kita untuk berfikir jorok sekaligus  mengopinikan bahwa berpikiran jorok dan porno itu wajar (kalo menurut ane itu sih kurang ajar, pis ah!).

Itu potensi bahaya yang seharusnya juga mendapat kecaman dan perhatian polisi. Jangan sampe dibiarkan lirik lagu yang memberikan inspirasi untuk berbuat cabul itu beredar di negeri ini. Apalagi kalo liat penyanyinya goyang erotis  dengan tubuh menggeliat-geliat sambil menyanyikan lagu itu dengan manja (Uwekks.. jadi pengen, maksudnya pengen matiin TV bro, hehe).

Nih lirik lengkap lagu yang menurut ane wajib disensor:

diam-diam aku mengagumimu
diam-diam aku memikirkanmu
diam-diam, diam-diam
hatiku memilihmu menjadi pacarku

diam-diam aku mengagumimu
diam-diam aku merindukanmu
diam-diam, diam-diam
hatiku memilihmu menjadi

diam-diam aku mengagumimu
diam-diam aku merindukanmu
diam-diam, diam-diam
hatiku memilihmu menjadi

[chorus]
dari dulu hatiku
memilih kamu untuk jadi kekasih hatiku
dari dulu tubuhku
memilih tubuhmu untuk ku kecup dan ku peluk
untuk ku dekap dan ku cumbu

diam-diam aku mengagumimu
diam-diam aku merindukanmu
diam-diam, diam-diam
hatiku tergila gila padamu

diam-diam aku mengagumimu
diam-diam aku merindukanmu
diam-diam, diam-diam
hatiku tergila gila padamu

diam-diam diam-diam
diam-diam diam-diam
diam-diam diam-diam
hatiku memilihmu menjadi

diam-diam diam-diam
diam-diam diam-diam
diam-diam
diam-diam
diam-diam diam-diam
diam-diam diam-diam
diam-diam diam-diam

[chorus]
dari dulu hatiku
memilih kamu untuk jadi kekasih hatiku
dari dulu tubuhku
memilih tubuhmu untuk ku kecup dan ku peluk
untuk ku dekap dan ku cumbu.

Ok bro, gimana menurut ente? (Ken Ahmad)

Ikhwan Bercincin Besi (Bagian 1)

Dorongan ekonomi membawa bunda pergi ke negeri orang. Menyusul Ayahanda yang telah dulu menjadi TKI (Tenaga Kerja Ilegal… Ilegal menurutku, karena hal itu tak pernah diizinkan keluarga.. anak-anak terlantar karenanya)

Alih-alih bertemu ayah, ibunda malah terdampar. Hingga terdengar kabar ibunda meninggal karena kekurangan oksigen di kamar pembantu, di sebuah rumah elit, di Negara Saudi Arabia. Ibunda meninggal dalam kondisi tak wajar. Tak ada jasad. Tak ada wajah yang bisa dilihat sang bocah untuk terakhir kali. Yang diterima hanya kabar ibunda telah disemayamkan. Entah dimana…

Sebulan kemudian… ayahanda yang tak pernah bertemu bunda di negeri orang pun pulang. Hati sang bocah berumur 6 tahun ini sangat senang. Ia ingin bertemu ayah yang selama ini tak pernah terlihat. Ia ingin meraba, menyentuh dan bermanjaan dengan sang ayah.

Begitu besar kerinduannya, hingga ia salah mengenal orang. Orang yang datang ke rumah dikira ayah… Sang bocah menarik-narik tangan sang tamu dan berkata, “Ayah, ayah lama sekali meninggalkan aku… aku pengen digendong ayah”.

Sang bocah telanjang yang hanya mengenakan celana pendek itu pun langsung menaiki punggung orang yang ia kira ayahnya dengan riang… Menyaksikan hal itu, sang tamu langsung menitikkan air mata… sambil memindahkan posisi bocah yang digendongnya ke arah depan, ia pun memeluk erat sang bocah. Namun, ia tak sanggup berkata-kata, apalagi untuk menyampaikan kepada sang bocah bahwa ayahnya di RS tak berdaya karena sakit liver stadium IV.

Tak berapa lama.. sang bocah tahu ayah meninggal di sebuah RS di Jakarta. Bagai sehidup semati, kepergian ibunda disusul ayahanda hanya dalam waktu sebulan…

***

Sejak ditinggal kedua orang tua 20 tahun silam, hidupnya terasa gersang. Tak ada lagi tetesan kasih membasahi jiwanya yang mengering. Tak ada topangan motivasi di saat-saat hidup terasa sulit. Tiada penadah saat raganya rapuh dan hendak terjatuh…

Hidupnya bagai di alam liar. Mencoba bertahan di tengah belantara kehidupan yang kejam. Masyarakat tampak acuh dan langka uluran tangan. Namun Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, selalu menyelamatkannya di saat-saat terdesak. Buktinya, selama ini ia berhasil tumbuh walau miskin dan penuh kesederhanaan.

Ia meyakini bahwa Allah yang selalu mengawasi dan memberikan rizki selama ajal belum menjemputnya. Sebagaimana sebuah hadist mengatakan, “…Karena sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya….”(HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Alhamdulillah, sang bocah telah tumbuh dewasa. Segala bentuk kesulitan dan penderitaan telah menghantarkannya pada majelis-majelis. Ia selalu mencari jawaban atas segala kesulitan yang dialaminya melalui pengajian-pengajian. Dan, kini ia telah jadi seorang ikhwan.

Namun, kehausan kasih yang selama ini terpendam tetap saja tak bisa hilang dengan pengajian. Kesunyian kerap kali menghampirinya… Sang ikhwan merindukan kasih yang tak pernah ia dapatkan. Sudah menjadi fitrah manusia ingin dikasih dan mengasihi, ingin dicinta dan mencintai.

Setiap kali ia membutuhkan cinta, ia hanya bersimpuh dan bercengkrama dengan Allah di keheningan malam. Namun, tetap saja itu tak cukup. Masih ada keresahan yang mengganjal. Hingga ia menyadari bahwa ia membutuhkan cinta Allah dalam bentuk lain. Yaitu, cinta dari sejenisnya yang telah Allah ciptakan agar manusia bisa merasa tentram. (Bersambung. ke bagian 2.) (Ken Ahmad)

Pemuja Cinta

Ketika hasrat membuncah
Ku kejar fatamorgana itu hingga lelah
Satu per satu ku pilih pilah…
Tak satu pun membawa berkah

Aku ini petualang
Dalam pengembaraannya terbuang
Hingga aku hampir dilelang
Benar benar malang…

Pemuja cinta hanya cerita
Tak ada dalam kisah nyata
Yang nyata hanya nafsu durjana
Terbuanglah yang tak sesuai selera

Cinta manusia tak ada yg Abadi
Hanya cintaMu yang kekal ya ilahi Robbi

Wahai Zat Pencipta Rasa
Aku lemah dan tak berdaya
Terkungkung oleh gejolak cinta

Kirimkan aku cintaMu
Utuslah seseorang untuk jadi kekasihku
Untuk mengarungi bahtera hingga sampai di surgaMu
Kali ini, itulah Pintaku……

Semoga

::KEN AHMAD, DI MASA PERJUANGAN::

Cantik…Oh, Cantik

Jika seorang lelaki memiliki istri yang cantik, biasanya timbul perasaan ujub dan sombong. Kemana-mana ketika jalan berdua, ia akan merasa bangga seraya membusungkan dada. Lelaki itu akan berkata dalam hatinya, “Woi lihat donk nih, istri gue cakep bener, berarti gue bukan orang sembarangan karena dapetin istri cantik.” Kemudian ia akan melirik-lirik memperhatikan siapa saja yang memperhatikan istrinya. Semakin membusunglah dadanya ketika sang istri banyak diperhatikan dengan decak kagum oleh orang lain.

Bagaikan boneka cantik, kemana pun ia pergi, sang istri akan dibawa, dijinjing dan ditimang-timang. Dengan percaya diri tinggi dan rasa bangga yang memuncak, ia akan tunjukkan ke rekan-rekannya dalam setiap pertemuan atau pesta. Kalau mau kondangan istri seolah seperti kado atau angpau yang tidak boleh ketinggalan. Seakan-akan ketika itu ia berkata, “ini lho istriku, cantik ‘kan? Siapa dulu donk suaminya? Kalau cari istri kaya begini donk, kelas atas!”

Ia tak tahu bahwa istri cantik adalah cobaan berat. Lebih-lebih jika wajah suami pas-pasan. Sang istri pasti selalu mendapat bisikan setan, “saya kan cantik, saya bisa mendapatkan lelaki tampan dan kaya. Koq, saya malah punya suami jelek dan tidak bisa memenuhi segala keinginanku secara materi.” Akan terlintas rasa penyelasalan… Akhirnya, sang istri akan melayani suami dengan setengah hati.. seenaknya aja… Malahan, sang suami yang sering disuruh-suruh dan diperbudak oleh istrinya. Permintaan cerai tak mustahil terlontar dari si cantik.

Dari hasil penelitian University of California, perempuan yang merasa dirinya cantik dan menarik dilaporkan lebih gampang marah. Peneliti menduga, perempuan tipe seperti itu terlalu berharap lebih sehingga ketika harapannya tidak terpenuhi mereka akan marah (detikhealth, 1/03/2010).

Coba renungkan perkataan Rasulullah ini, “Janganlah kalian menikahi wanita hanya karena kecantikannya semata (semata), boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda, “Jauhi oleh kalian rumput hijau yang berada di tempat yang kotor. ‘Mereka bertanya, ‘Apa yang dimaksud rumput hijau yang berada di tempat yang kotor itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu wanita yang sangat cantik yang tumbuh (berkembang) di tempat yang tidak baik.” (HR ad-Daruquthni, Askari dan Ibnu Adi). Wallahu a’lam (Ken Ahmad)

Cowok Matre !

Siapa yang gak mau, ketika berkeluarga, kita gak terlalu repot mencari materi. Sang istri anak saudagar kaya, warisan di mana-mana. Udah gitu, anak tunggal pula. Gak akan kemana-mana dach tuh harta. Jika ketemu kawan, ia akan dipuja-puja, “loe beruntung, enak dapet istri orang kaya, loe tinggal nikmati dan gak perlu kerja keras.”

Sepintas, tampak manis dan bahagia. Namun, apa yang terjadi di rumah tangganya? Jika kecenderungan suami terhadap harta istri sangat tinggi, bahkan segala-galanya, bersiaplah menjadi budak dalam rumah tangga. Kewibawaan sebagai pemimpin yang telah Allah sematkan kepada seorang suami akan sirna. Suami akan “kalah” dan tidak bisa memimpin istri. Istri akan cenderung memperbudak suami.

Maka, luruskan niat saat hendak menikah. Menikahlah untuk meraih ridho Allah. Maka pilihlah yang baik agamanya. Jika ia kaya, itu bukan yang utama. Jangan terlalu berharap karena tanggung jawab menafkahi tetap di tangan suami. Pandanglah kekayaannya sebagai hal biasa, sehingga hal itu tidak mempengaruhi sikap seorang lelaki membimbing dan menegakkan kebenaran di tengah-tengah keluarga.

Cantik, kaya, tidak dilarang untuk dinikahi, tetapi kita harus meluruskan niat bahwa menikahinya bukan karena hal itu. Nikahilah karena kepribadiannya (mobil pribadi, rumah pribadi…serba pribadi… lho koq ngaco!.. hehe). Atau, kata orang nikahilah karena kewibawaannya (wi… bawa mobil, wi…. bawa motor, wi bawa uang, hahaha). Udah ya, jangan kelamaan ngocolnya. Lebih baik simak sabda Rasulullah berikut:

“Barang siapa yang menikahi seorang wanita hanya karena hartanya semata, niscaya Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain kefakiran (kemiskinan)…..” (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Wallahu a’lam (Ken Ahmad)

Kekasihku…

“Bila waktu telah berakhir teman sejati hanyalah amal…”

“Kekasihku…sesungguhnya aku takkan abadi bersamamu
engkau hanyalah washilah (sarana) bagiku untuk semakin mendekat pada-Nya
Kekasihku…sesungguhnya engkau hanyalah rekanku sementara waktu
selama aku masih diberi kesempatan untuk tinggal di dunia

 


Rekan yang akan mendampingiku dalam menjalankan misi, menggapai keridhoan-Nya dalam setiap aktivitas hidupku…
Rekan yang akan selalu mengingatkanku ketika aku salah…

Rekan yang akan mendampingiku ketika aku resah dan lelah dalam mengemban amanah…
Rekan yang akan membantuku, meringankan bebanku ketika kita harus

melalui jalanan yang berliku…
Rekan yang akan menemaniku dalam membangun peradaban baru…

 


Namun sungguh kau takkan akan abadi bersamaku…
Karena kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita masing-masing…

Kau dan Aku… tak selamanya bersatu

Karena itu…

Siapapun kekasihku kelak…kekasih kita kelak…
Kau adalah orang terbaik yang Allah persembahkan bagiku untuk menjalankan misiku”

Kutemukan Belahan Jiwaku…

Rahasia jodoh, rejeki dan kematian adalah mutlak milik Allah Swt, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahuinya kecuali sang Pemilik diri kita. Hal tersebut telah terpatri erat dalam pikiranku sejak lewat dua tahun lalu. Mendorongku untuk terus berikhtiar dan selalu berkhusnudzon kepada Allah Azza wa Jalla tentang kapan saatnya tiba menemukan belahan jiwaku.

Dalam proses pencarian diusiaku yang ketiga-puluh-tiga, beberapa teman dekat mulai dijajaki, ta’aruf pun dilakukan. Dalam proses ta’aruf, salah seorang sempat melontarkan ide tentang pernikahan dan rencana khitbah. Namun herannya, hati ini kok emoh dan tetap tidak tergerak untuk memberikan jawaban pasti. Hey, what’s going on with me? Bukankah aku sedang dikejar usia yang terus merambat menua? Bukankah aku sedang dalam proses pencarian belahan jiwa? Bahkan seorang sahabat sempat berkomentar miring tentang keengganan aku memberikan respon kepada salah satu dari mereka. Si sahabat mengatakan bahwa aku adalah type ‘pemilih’ yang lebih suka jodoh yang tampan, kaya raya dan baik hati, dan lainnya yang serba super dan wah. Tapi, aku gelengkan kepalaku ke arahnya karena kriteria seorang calon suami bagiku adalah si dia seorang muslim sejati yang mempunyai visi yang sama untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Tapi lucunya, kalau diminta untuk mengejewantahkan ke dalam diri seseorang, jujur saja aku tidak tahu.

Again, jodoh sesungguhnya sebuah rahasia yang mutlak milik Allah Swt. Proses pertemuanku dengan sang suami pun bak cerita dongeng. Jangankan sahabat atau rekan kantor, pun jika kami kembali me-rewind proses pertemuan kami, wuih … unbelievable! but it happened! Subhanallah…

Suamiku adalah sosok yang biasa dan sangat sederhana, namun justru kesederhanaan dan keterbiasaannya itulah yang memikat hati ini. Dan, alhamdulillaah hampir mendekati kriteria seorang suami yang aku dambakan. Di beberapa malam kebersamaan kami, suami sering menanyakan kepadaku tentang satu hal, “apakah bunda bahagia menikah dengan aku?” aku pun menjawab dengan jeda waktu sedikit lama, “ya, bunda bahagia, ayah”. Masya Allah, seandainya suamiku tahu, besarnya rasa bahagia yang ada di dada ini lebih dari yang dia tahu. Besarnya rasa syukur ini memiliki dia cukup menggetarkan segenap hati sampai aku perlu jeda waktu untuk menjawab pertanyaannya. Hanya, aku masih belum mampu mengungkapkan secara verbal. Allah yang Maha Mengetahui segala getaran cinta yang ada di hati bunda, Allah yang Maha Mengetahui segala rasa sayang yang ada di jiwa bunda. Karena, atas nama Allah bunda mencintai ayah.

Pertama kali aku melihat suamiku adalah ketika acara ta’lim kantor kami di luar kota. Kami berdua belum mengenal satu sama lain. Hanya kesederhanaan dan wajah teduhnya sempat mampir di dalam pikiranku. Beberapa hari kemudian, aku terlibat diskusi di forum ta’lim yang difasilitasi oleh kantor kami. Di sinilah aku merasakan kuasa Allah yang sangat besar. Rupanya teman diskusi itu adalah si empunya wajah teduh tersebut. Ini aku ketahui ketika kami janjian bertemu di suatu majelis ta’lim di salah satu masjid di Jakarta. Sempat juga aku kaget ketika menemui wajah yang tidak asing itu. Setelah acara ta’lim selesai, kami sempat mengobrol selama kurang dari satu jam dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada yang special pada saat itu, at all.

Namun beberapa hari kemudian, entah kenapa wajah teduh itu mulai hadir di pikiranku kembali. Ternyata hal yang sama pun terjadi di pihak sana. Kami pun sepakat untuk melakukan ostikharah. Subhanallaah, tidak ada kebimbangan sama sekali dalam hati kami berdua untuk menyegerakan hubungan ini ke dalam pernikahan. Satu minggu setelah pertemuan kami di masjid, sang calon suami pun melamarku lewat telepon. Pun tanpa ada keraguan aku menjawab YA, ketika dia mengatakan akan membawa keluarganya untuk meng-khitbah ahad yang akan datang.

Pernikahan kami terlaksana justru bersamaan dengan rencana khitbah itu sendiri. Proses yang terjadi adalah keajaiban buat kami berdua dan semua adalah kuasa Allah yang ditunjukkan kepada kami. Kami rasakan ‘tangan’ Allah benar-benar turun menolong memudahkan segala urusan. Hari H yang semestinya adalah pertemuan antar dua keluarga dalam acara khitbah, justru dilakukan bersamaan dengan akad nikah. Sujud syukur kami berdua, karena semua acara berjalan begitu lancar, dari mulai dukungan seluruh keluarga, urusan penghulu dan pengurusan surat-surat ke KUA, hanya dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam!!. Maha Suci Allah, hal tersebut semakin menguatkan hati kami, bahwa pernikahan ini adalah rencana terbaik dari Allah Swt dan Dia-lah Pemersatu bagi perjanjian suci kami ini. Dalam isak tangis kebahagiaan kami atas segala kemudahan yang diberikan-Nya, tak pernah putus kami bersyukur akan nikmat-Nya. Insya Allah, pernikahan kami merupakan hijrahnya kami menuju kehidupan yang lebih baik dengan mengharap ridho Allah, karena tanggal pernikahan kami selisih satu hari setelah hari Isra mi’raj.

Akhirnya setelah sekian lama aku mengembara mencari pasangan hidup ternyata jodohku tidak pernah jauh dari pelupuk mata. Suamiku adalah teman satu kantor yang justru tidak pernah aku kenal kecuali dua minggu sebelum pernikahan kami. Inilah rahasia Allah Swt yang tidak pernah dapat kita ketahui kecuali dengan berkhusbudzon kepada-Nya. Percayalah, bahwa Allah Swt adalah sebaik-sebaik Pembuat keputusan. Serahkanlah segala urusan hanya kepada Allah semata. Jika sekarang para akhwat yang sudah di atas usia kepala tiga merasa khawatir karena belum mendapatkan pasangan/jodoh, percayalah selalu akan janji Allah di dalam firman-Nya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (ar-Ruum:21)

Jangankan manusia, hewan dan buah-buahan pun diciptakan Allah perpasangan. Ber-khusnudzon selalu kepada-Nya bahwa, entah esok, lusa, satu bulan, satu tahun atau bahkan mungkin sepuluh tahun nanti, dengan ijin Allah, jodoh kalian pasti akan datang. Pasangan jiwa yang terbaik yang dijanjikan dan dipersatukan-Nya dalam perjanjian suci yang disebut pernikahan. Wallahu’alam bishshowab. (bunda)
___________________
sumber : eramuslim.com

Hati-Hati dengan Ikhwan Genit (Mengajak Ta’aruf Gak Jelas)

Cerita yang menarik untuk disimak, mudah-mudahan banyak pelajaran yang bisa diambil…

Hai cewek, ups! Oh Assalamu’alaikum ukh, salam ukhuwah!

Haha saya hanya niru apa yang biasa ikhwan yang ucapkan kepada ukhti. Hmm untuk nyebutnya kadang saya gak bener maklumlah bahasa Arab saya kan ga pernah belajar, baca Iqro aja plentat-plentot, tapi yang penting keliatan kalo saya ikhwan deh.

Kenapa kalian bisa begitu mempesona dibalik pakaian besar kalian? Saya ga pernah bisa ngerti itu, padahal enak ‘kan kalo saya liat cewek baju ketat with short pant uhuuuyyy … apalagi bodi dan mukanya lumayan, yah paling enggak bisa dibanggain kalo diajak jalan. Tapi melihat kalian dengan pakaian besar kalian membuat saya tertarik

Sangat tertarik… kenapa tubuhmu tertutup rapat? Apakah dibalik itu semua tubuhmu kudisan? Haha… saya rasa gak, muka kalian begitu bersih dan kalian sepertinya gak mudah untuk ditaklukkan,

Bener juga kalian begitu susah ditaklukkan. Kenapa bisa sih?Gak mungkin gara-gara jubah gede yang kalian pake kan?

Kau tahu, untuk mendapatkan wanita kebanyakan di luar sana begitu mudahnya. Saya ajak makan bareng udah bisa cium pipi, saya ajak nonton minimal dapet kissing. Kalo udah beli coklat dan bunga berarti saya boleh petting, haha…. Gak perlu diceritakan ke lanjutannya. Yang pasti, kalo udah bosen tinggal selingkuh aja, ketahuan juga bodo, tinggal cari lagi.

Hei manis, tahukah sealim apapun kalian, saya udah tau kelemahan wanita, karena kalo saya ga tau kelemahan kalian, pasti begitu susah mendekati kalian. Hmm… kenapa ya, saya ajak kenalan lu langsung nolak? Minta nomor telepon apalagi? Hadoh susah juga nih, walaupun saya dapet nomor telepon lu, lu juga ga mau bales ataupun angkat telepon saya.

Tapi saya tau, seperti yang kalian bilang di mana ada niat pasti Allah kasih jalan. Dan, saya udah niat harus bisa menaklukkan kalian . Dan aha! Ternyata begini cara menaklukkan kalian. Ternyata kalian disebut akhwat dan yang cowoknya disebut ikhwan, walaupun lidah saya ga biasa ngucapinnya.

Mulailah saya menelusuri apa itu ikhwan? Hmm… orang yang kerjaannya ngaji, sering mengutip kalimat-kalimat Tuhan, dan.. yah kalo punya jenggot tipis juga gapapa, hoho.. itu mudah saya lakukan, lalu apalagi? hmm… cara ngomongnya lain, kalo ngobrol ama lawan jenis nunduk (apa cari duit jatoh?), entahlah, yang penting saya ikut dulu.

Dalam waktu dua minggu berubahlah saya seperti ikhwan, plus facebook dan blog saya terlihat islami, dan mulailah saya mencoba mendekati kalian. Ingatkah pertama kali kita kenalan? Saya ucapkan hadist sebagai ukhuwah kita, dengan manis saya bilang “Salam ukhuwah yaa ukhti” , dan kau balas gitu juga.
Mulailah jerat itu saya pasang, kau berani kasih nomor telepon ke saya, dengan itu saya bisa sms kau dini hari untuk sholat tahajud. Padahal saya ga sholat dan kebetulan ada petandingan sepakbola, haha… Sambil nyelam nyari ikan, kan saya kucing air! Hmm… memang susah juga menaklukkan kau, saya harus berkorban banyak nih.

Mulailah saya menelpon buat berdiskusi dan tukar pikiran , tentu aja saya juga stanby di internet biar saya bisa cari jawabannya di internet. Oh saya baru tahu ada namanya kegiatan keagamaan di kampus, ya udah saya juga ikut deh dan duduk deket tirai pembatas, siapa tau kebetulan kau bisa liat saya ada.

Pulang ngaji saya coba ajak pulang bareng naik motor, dengan alesan udah malem gag baek kalo pulang sendiri, haha… kau mau, Yes ! Haha.. ternyata ga terlalu sulit untuk dekat dengan kau, hanya cukup memasang topeng yang kau suka dan kau akan luluh, tinggal saya serang kelemahan setiap wanita yaitu kupingnya.

Walaupun banyak kata-kata yang ga ngerti, tapi saya yakin ini bentuk rayuan maut buat kau, hehe… emang aneh sih sms padahal gag ada kata-kata yang ngerayu misal INU IMU ILU atau sebagainya tapi Cuma kutipan hadist ama Qur’an plus kata-kata bijak dan penyemangat, tapi kenapa bisa bikin kalian luluh? Dasar wanita!

Tahukah kau, saat kau memakai kaus kaki yang terlalu pendek atau bahkan ga sama sekali, terlihatlah betis mu yang indah itu disaat mengendarai motor dan berhenti, padahal saya sering lihat betis bahkan paha wanita tapi kenapa lihat yang ini berbeda? Mungkin gara-g ara kau umpetin terus.

Saat kau memakai tas ransel , tanpa kau sadari talinya membuat bentuk tubuhmu terlihat, serrrr….slerp hajar bleh! Apalagi kalau ga pake gamis sadar atau enggak bagian pinggang dan pinggul itu ketat karena roknya…hmmm, Yummy! Kata Chio “kapan lagi liat barang mahal di obral” mantap deh hahaha…ga ngeh kan?

Ga itu aja kok, kalo saya liat lu pake jubah terus pasti saya tegor “Ukh, kok pake jubah terus? serasa ngeliat ibu-ibu majelis taklim, padahal kamu cantik banget, tapi ketutup sama jubah ibu2.. Kamu pasti kaya bidadari kalo pake pakaian yg lebih modis.” Dan mulailah dengan instingmu yang pandai berdandan kau akan menggunakan pakaian modis dan sedikit demi sedikit meninggalkan pakaian syar’i kamu.. Pengen terliaht cerah, cerah,dan modis di hadapan saya, haha… lumayan pemandangan bagus untuk saya nikmatin.

Apalagi kalau kalian udah berani pajang muka di internet, hahaha… biasanya lebih mudah dibujuk tuh hehehe… Tapi, gak seru dengan yang itu, saya mau inc er yang bener-bener tertutup , pasti lebih tertantang, kapan lagi sih saya bisa menaklukan cewek eh akhwat kek gitu? Suatu prestasi tersendiri dan naikin derajat sayalah .

Sial, kenapa ga ada pacaran islami. Mau ngajak pacaran lu selalu di masjid gitu kalo gak lagi masiroh (demo) di jalanan. Tapi, saya ga nyerah kok, kenapa saya ga coba ta’aruf aja dulu, yah khitbah juga jadi deh, dengan alasan ntar aja saya nikahin kalo udah lulus kuliah dan udah dapet kerja mapan plus kendaraan dan rumah sendiri.

Biarin lama, yang penting saya kek janji dulu, dengan gitu saya bisa tuker biodata, bisa sms-an, teleponan, bahkan chatting pake webcam malem-malem haha… ternyata kau tetap wanita yang mempunyai hati yang lemah, sehingga mudah luluh dengan apapun, ahh… Dan saya bisa melakukan rayuan maut lebih dari sekarang, dan saya yakin bisa!

Saya tau setebal apapun iman kau, h ati kau tetap lemah, dan mudah luluh dan saya akan terus mengintai dari situ, mencari celah untuk masuk dan menaikkan pasaran saya sebagai orang yang pernah pacarin wanita yang terkenal alim, hahaha…

Godaan berat yang seringkali menjadi pintu masuk setan dalam menyesatkan manusia adalah berupa hasrat terhadap lawan jenis…

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-Araaf:27)

“Janganlah salah seorang diantara kalian be rduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaik annya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)

“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi).

Allah tidak saja memperingatkan ma nusia untuk menjaga hubungan lelaki dan wanita, Allah juga memerintahkan wanita untuk menjaga izzahnya melalui perintah menutup aurat dan adab berpakaian…

“Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud].

“Hendaklah mereka menutupkan ka in kerudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

“Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!'” [HR Bukhori-Muslim]

Wallahu a’lam (Ken Ahmad)

Efek Putus Cinta Sama Seperti Sakaw pada Pecandu Kokain

New York, Ketika sedang put us cinta, perasaan dan suasana hati menjadi sulit untuk dikontrol. Di otak, efek semacam ini ternyata sama seperti yang dialami pecandu kokain saat sedang sakaw.

Sebagian orang menganggap perasaan itu sangat menyakitkan, bahkan bisa memicu berbagai gangguan kejiwaan antara lain depresi. Perilaku yang menyertainya kadang cukup serius, misalnya bunuh diri atau melakukan tindakan kriminal yang membahayakan orang lain.

“Ini menunjukkan bahw a rasa cinta yang begitu mendalam dapat memicu adiksi atau ketergantungan seperti halnya kokain,” ungkap Arthur Aron, profesor psikologi sosial dan kesehatan dari Stony Brooke University, dikutip dari NYdailynews (detikhealth.com, 26/7/2010).

Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan ke marahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta. (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Oleh karena itu wahai sahabat… Janganlah berputus asa terhadap rahmat dan kasih sayang Allah di kala semua cinta semu di dunia ini telah menjau h. Engkau sama sekali tak kehilangan apapun ketika itu, kecuali engkau berpaling dari Allah. Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam hidup ini.

Begitu pula saat jodoh tak datang jua. Usaha penjemputannya selalu tersia-sia… Dunia tampak sempit dan muram. Kehidupan terasa tak ramah dan ingin berlari menjauhinya. Betapa menderita sehari-hari terhimpit dalam kesedihan.

Bagi mereka saya ingin katakan bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah. Rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah. Karena itu pula kita pun jangan berlaku pasrah dan dan menyerah serta beranggapan semua kekalahan dalam hidup ini Allah yang atur.

Saya pun ingin mengatakan bahwa kita tak pernah tahu apa yang ditetapkan Allah untuk kita. Jangan berfikir tentang msiteri itu, karena sehebat apapun mahkluk- mahkluk Al lah untuk membuka tabirnya tak akan menghasilkan apa-apa selain angan-angan dan keterpurukan.

Wahai sahabat, lakukanlah apa yang bisa kau lakukan, apa yang kau kuasai dan apa-apa yang engkau bisa mengubahnya. Carilah cinta sejati dengan petunjuk Allah, dan jangan kau mencari jalan pintas. Redanya dahaga cinta yg kau peroleh dengan cara mengkhianati Allah sesungguhnya hanya akan menambah haus dan hampa.

Untuk hal-hal yang tidak engkau kuasai, dan hal-hal yang tidak bisa engkau mengubahnya, jangan engkau gila karenanya. Sesungguhnya Allah hanya melihat dan menilai usaha dan proses yang sahabat semua lakukan. Allah tidak melihat hasil dari semua kerjamu. Sesungguhnya tertolaknya engkau dari pujaan hatimu takan membuatmu berdosa. Sesungguhnya jeleknya wajahmu, hitamnya kulitmu, peseknya hidungmu, miskinnya hartamu, dan hal-hal yang tak bisa engkau mengubahnya, yang menyusahkanmu untuk menyudahi masa lajangmu adalah urusan Allah. Engkau tidak akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban karenanya. Jangan kau bersedih karena hal itu. Allah mengujimu sebagai tanda kasih-Nya.

Maka dari itu, pasti ada hikmah besar yang Allah berikan. Tetaplah engkau ada di jalan Allah di saat semua hidup terasa sulit. Raihlah cintaNya, cinta sejati yang tiada bertepi… Jika Allah menghendaki, seluruh isi dunia akan melayani… Subhallah wa alhamdulillah, wa laa ilaha illallahu Allahu Akbar… Wa laa haula wa laa quwwata illaa billah…. Wallahu’lam (Ken Ahmad)

 

-Pengorbanan Cinta Salman-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah…wal hamdulillaah…”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karunia-Nya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya!

__________________________________

Sumber: Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah

Istikharah Cinta

istikharah jodohYa Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang terbaik kepada Engkau dengan ilmu yang ada pada-Mu, dan aku memohon kekuasaanMu untuk menyelesaikan urusanku dengan kodratMu

Dan aku memohon kepadaMu sebagaian karuniaMu yang agung, karena sesungguhnya engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha Tahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.
Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa fulan/fulanah lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta lebih baik pula akibatnya di dunia dan akhirat, maka takdirkanlah dan mudahkanlah fulan/fulanah bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan jodoh ini.

Dan sekiranya Engkau tahu bahwa fulan/fulanah lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta lebih buruk pula akibatnya di dunia dan akhirat, maka jauhkanlah fulan/fulanah dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

jangan pernah berputus asa untuk senantiasa berharap dan berdoa minta jodoh.

-Mencintai Sejantan Ali-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

___________________

Sumber: Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah

Keong Racun Vs Tokek Racun

Agan-agan… ncang, ncing, nyak, babe.. sahabat TJ semuanya… Belakang ini beredar luas binatang-binatang beracun di internet… Keong Racun en Tokek Racun. Mungkinkah ini gambaran masyarakat kita yang kian beracun..? Kalo dilihat dari lirik dua mahkluk beracun itu, emang nakal banget. Kayanya udah gak aneh dach kita temui realitas seperti yang ada di dua lirik lagu beracun tersebut. Ngena banget tuh lagu, sepertinya sesuai dengan realitas. Makanya, dua dara (Sinta en Jojo) yang nge-lip sync langsung ngetop dan jadi seleb dadakan. Dengan fenomena ini, kayanya bakal banyak dech yang ngikutin cara Sinta en Bejo, upload lagu-lagu yang lebih nakal via YouTube. Sapa tahu jadi beken juga kaya mereka, ya gak? Ayo, sapa yang mau niru jadi seleb dadakan lewat cara Sinta-Bejo (eh, Jojo)?

Nih, lirik nakal dua lagu beracun yang saling bersahut-sahutan..

Keong Racun

Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan

Tokek Racun

Dasar kau tokek racun
sudah dibayar, eh nolak tidur
ngomong gak mau ML,
tau kau tetap terus nempel

Eh, kau lebay sekali
Pakai basa-basi kau nolak happy-happy
Eh, gaya malu-malu
Pakai basa basi kau nolak happy-happy

Sorry sorry sorry, jeng
Kau cantik tapi gendheng
Sorry sorry sorry, mbak
Kau memang cewek murahan

Hmm.. cabul banget sich! So, pikir-pikir dulu deh, bagi agan-agan yang mau nyebarin racun lewat internet. Gimana kalo lirik nakal itu jadi inspirasi kaum muda di negeri ini? Mau tanggung jawab gak, di hadapan Allah SWT? Kalo ane sich, ngeri dach. Kagak mau ikut-ikutan ah! (Ken Ahmad)

Mencari Jodoh yang Sempurna

luna maya - arielDalam mencari pasangan hidup, apa yang biasa kita cari bro? Secara fisik mungkin kita pengennya yang ganteng, cantik, bohai, putih, mulus, tajir, dan sederet krieria lain yang bikin kita asyik tuh kalo ngehayal. 😀

Seorang temen pernah bilang ke ane, “Kalo cari istri cantiknya kaya Luna Maya… pasti hidup gue bahagia, kemana-mana bangga banget jalan sama istri. Tidur juga pasti bisa nyenyak tiap hari”. Wah itu temen gw lagi ngehayal tingkat tinggi.

Terlepas dari itu semua, apakah benar kalo kebahagiaan ketika menikah itu dilihat dari kesempurnaan fisik pasangan kita. Kita sering liat pasangan selebriti, secara fisik kayanya ideal banget, cewek cantik dan yang cowok ganteng. Tapi, nggak nyangka ‘kan lo kalo mereka pada akhirnya bubaran. Gw ga akan sebut nama, tapi gw yakin lo udah pada tau semua tentang hal itu. Banyak contohnya.

Kesimpulannya, ternyata cantik, kaya, ganteng nggak menjamin kebahagiaan keluarga. Buktinya, mereka yg super kaya dan cantik pun akhirnya tak bahagia dan berujung pada perceraian. So, menurut saya, pilihlah pasangan itu yang baik agamanya supaya ketika ada masalah dia bisa mencari solusi terhadap aturan agama islam yang dianutnya. Hal itu yang menurut ane sesuatu yang dapat menyelamatkan rumah tangga dan menjamin kebahagiaan, bukan kecantikan or kegantengan!

Kata guru ane, cari istri itu yang shalehah, cantik gpp, kaya apalagi.. (wah, bisa serakah amat, hehe). Bagi cewek, cari suami yang Berwibawa.. wi bawa motor, wi bawa mobil. Atau, cari suami yang punya kepribadian bro. Mobil pribadi, rumah pribadi, serba pribadi dach! (huahaha.. lebay!). Yang bener donk! Ini serius, cari suami itu yang penting adalah IMAN-nya, i… manis orangnya. Just kidding bro! Bagaimana menurut kamu? 😀

Naluri Seksual (#2)

Sambungan dari bagian 1…

Jadi, pemenuhan naluri seksual itu hanya untuk suami istri ya? Terus, bagaimana kita-kita yang belum punya pasangan, padahal GEJOLAK itu selalu meluap-meluap meminta pemenuhan?

Yups, betul. Jika naluri seseorang bergejolak, sudah tentu membutuhkan pemuasan. Kalo udah terpenuhi, kita akan merasa tenang dan tentram. Sebaliknya, jika naluri itu tidak bergejolak, tidak perlu pemuasan.

Pada saat naluri seksual menuntut pemuasan, hal itu akan mendorong seseorang untuk memenuhinya. Jika belum terpenuhi, akan timbul kegelisahan. Barulah setelah gejolak turun, akan hilang rasa gelisah itu. Bagi yang belum punya pasangan sah, tegangan dari GEJOLAK SEKSUAL bisa turun sendirinya. Misalnya, lagi melamun sendiri di kamar, tiba-tiba ada yang ketok-ketok pintu keras bangets… Ternyata ibu kos nagih uang bulanan. Dijamin turun dach tuh “tegangan” ketika liat wajah ibu kos yang sangar , hehe.

Tapi, repot juga kalo untuk meredakan gejolak seksual harus nunggu ibu kos terus. Tenang aja bro, kalau gak ada ibu kos, paling cuma gelisah doang. Naluri seksual yang bergejok itu tidak akan membunuhmu. Naluri yang tidak terpenuhi hanya akan mengakibatkan kegelisahan dan kepedihan yang sangat menyakitkan. Bisa dibilang seperti penyakit TBC (Tekanan Batin Cinta). Sakit atau gak, tergantung kadarnya bro. Tapi tetep aja, separah-parahnya kegelisahan itu, tidak akan meyebabkan kematian. Beda kalau kita laper dan haus, butuh makan dan minum. Itu sih, wajib adanya. Kalo gak terpenuhi, kita bisa say good bye… bangun-bangun udah ada malaikat Munkar Nakir. Ngeri ‘kan tuch!

Tapi tetep, walaupun gak mati, kita bisa kurus kering akibat kegelisahan yang tak kunjung padam. Terus gimana donk solusinya? Hm… Ini jurus andalan untuk mengendalikan naluri seksual. Untuk bisa mengendalikannya, kita mesti kenal lebih jauh hal-hal yang dapat membangkitkan naluri seksual.

Ada dua faktor yang dapat membangkitkan naluri seksual: (1) fakta yang dapat diindera; (2) pikiran-pikiran yang dapat mengundang bayangan-banyangan atau fantasi tertentu. Jika faktor-faktor itu tidak ada, naluri seksual tidak akan bergejolak. Sebab, gejolak naluri tersebut bukan berasal dari faktor-faktor internal. Berbeda dengan kebutuhan jasmani yang muncul dari internal, seperti kebutuhan makanan, ada atau tidaknya rangsangan dari luar, tubuh kita dari dalam akan tetap merasakan lapar dan butuh makanan. Naluri seksual terbangkitkan oleh faktor eksternal, yaitu fakta-fakta yang terindera dan pikiran-pikiran yang dihadirkan (yang biasa kita sebut Omes alias otak mesum).

So, jurus menurunkan gejolak seksual yang Islam berikan adalah menjauhkan segala hal yang dapat membangkitkan naluri seksual, baik berupa fakta-fakta cabul maupun pikiran-pikiran porno. Nah, kalo dengan jurus andalan itu tetap gak bisa menurunkan tegangan, maka terpaksa deh, kita keluarin jurus pamungkas. Apaan tuchhh? M E N I K A H L A H ! So, jurus mana yang Anda pilih? Wallahu a’lam (Ken Ahmad)

Naluri Seksual (#1)

“Mantabsss! Seksi en bohai bener tuh cewek… Pake celana pendek, kulit putih, wajah mulus, idung mancung, imut dan rambut panjang. Ahhhhhh gak tahan melihatnya.”

STOP ah! Jangan dilanjutin menghayalnya ya? Tundukkan padangan dan mari beristighfar sama-sama… ASTAGHFIRULLAH AL-ADZIM….. 100 X

======

Cowok tampan tiba-tiba duduk di hadapan kamu di sebuah angkot. Tampang-tampangnya mirip Darius. Tinggi, putih, badan tegap, wangi lagi. Terus senyum dan berkata, “Mbak geseran dikit donk, aku mau duduk di situ… di sini panas banget kena matahari.”

Gubraks… Ser-ser-nud.. cewek itu rada-rada salting diminta geser sama cowok ganteng. Sambil senyum-senyum dengan wajah memerah ia bergumam, “Wow, mimpi apa gue semalem, duduk bersanding dengan pangeran tampan.” Udah ya..?! Hentikan piktornya! Ayo istighfar lagi… ASTAGHFIRULLAH AL-ADZIM….. kali ini 1000 X.
======

Nah, sudah terasa ‘kan? Ada getaran yang bergejolak di seluruh tubuh. Merinding… Ahh, kalian pasti lebih jago membayangkannya. Ada dorongan untuk mendekati lawan jenis… Kadang dorongan ini tak terkendali.. Membuat insan muda gelisah-gelisah geli, merana, rindu, stress, kangen, Beteeee… Apalagi kalo malam minggu sepi sendiri… Wah, bisa-bisa sakau dach tuhw! Ada dorongan menuntut pemuasan. Bawaannya pengen deket-deket sama cewek mulu atau sebaliknya. Singkat cerita, banyaklah kaum muda-mudi nongkrong di mall-mall, tempat hiburan bahkan club-club malam. Hanya satu yang mereka cari: PEMUASAN NALURI SEKSUAL.

Sahabat TJ, Naluri itu ada memang bukan salah kita. Ia ciptaan Allah SWT. Namun, tahukah apa tujuan diciptakannya naluri seksual? Yaitu UNTUK MELESTARIKAN KETURUNAN MANUSIA, bukan yang lain. Naluri seksual terkait dengan pria dan wanita untuk melangsungkan keturunan, bukan untuk mencari kenikmatan semata. Dengan kata lain, naluri ini diciptakan Allah Swt. hanya untuk kehidupan suami-istri saja.

Penciptaan naluri seksual oleh Allah Swt. jangan dijadikan pembenaran untuk melakukan perzinahan. “Jangan salahkan jika kuingin ‘bercinta’, karena rasa itu dari awal telah ada, aku tidak mengundangnya, aku hanya mensyukuri nikmat yang bergelora, dengan bersenang-senang dan bercumbu ria”, itulah syair kebebasan pemuja syahwat.

Banyak masyarakat “modern” menganggap bahwa hubungan pria dan wanita sebatas meraih kenikmatan seksual semata. Akibatnya, tanpa harus nikah pun mereka tak segan-segan untuk (maaf) berhubungan intim. Kenapa harus nikah jika tujuannya sudah terpenuhi?

Oleh karena itu, pandangan tersebut harus dirubah. Hubungan pria dan wanita mesti disandarkan pada ketakwaan terhadap Allah Swt., bukan untuk mencari kenikmatan dan menuruti syahwat. Dalam pandangan Islam, kenikmatan dan kelezatan pemenuhan naluri seksual memang diakui. Tetapi, hal itu dilakukan sesuai syariat, mampu mewujudkan keturunan, dan selaras dengan cita-cita luhur seorang muslim, yaitu mendapat ridho Allah Swt. (Nyambung bro ke bagian 2..)

Naluri Seksual (Bagian 1)

Ketika Hati Wanita Ternoda (#2, Tamat)

Di antara keutamaan menikah dengan gadis perawan adalah mereka lebih rela dengan nafkah yang sedikit. Anda bisa berumah tangga mulai dari nol, dari keadaan tidak punya apa-apa sama sekali. Penghasilan pas-pasan dan rumah kontrakan tipe RS7 tidak menjadi persoalan. Tidak berkurang sedikit pun kemesraan dan ketulusannya. Itulah yang dikatakan Rasulullah, “….. lebih rela menerima (pemberian, nafkah) yang sedikit”.

Ketika menelisik kehidupan nyata saat ini… muncul pertanyaan, adakah gadis baik saat ini ketika kehormatan dan kesucian dianggap tidak penting lagi? Ada gak ya? Hm.. Anda mungkin bisa membayangkannya ketika melihat pergaulan muda-mudi di sekeliling Anda. Kalo saya sih, hanya bisa mengelus dada (bukan sok suci lho, ngelus dada karena haus nih, eh salah ya, harusnya ngelus kerongkongan… maksa hehe).

Kesucian cinta yang seharusnya hanya dipersembahkan untuk sang suami, apa jadinya jika telah ternoda? Kisah Rani, Rebeca dan Yayuk adalah hanya sekelumit kisah di permukaan. Banyak fakta dan cerita yang lebih parah dari sekedar cerita ringan Rani, Rebeca dan Yayuk. Menurut survey BKKBN tahun 2008, 63 persen remaja Indonesia pernah berhubungan seks. Parahnya, hasil penelitian Komnas Anak pada tahun yang sama menunjukkan 62,7 persen remaja SMP sudah tidak perawan lagi. Wow… kapan melakukannya ya? Saat belajar kelompok kali! hehe

Kasihan suami kita kelak. Ia kita berikan cinta sisa orang. Sang istri telah ternoda dan sudah “tidak perawan” (dalam makna kiasan ataupun sungguhan). Kelak, ketika sudah bersuami, wanita yang hatinya telah ternoda cenderung membandingkan suami dengan hal terkesan di masa lalu bersama “sang mantan”. Akibatnya, ia tidak terima jika suami tak sesuai dengan harapannya. Tepatnya, tidak sesuai seperti sang mantannya.

Mungkin itu salah satu penyebab tingginya perceraian saat ini. Menurut KUA, setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai. Umumnya mereka yang baru berumah tangga (KUA 2007). Tahun 2007 aja sudah seperti itu, apalagi tahun sekarang 2010… pasti lebih tinggi lagi. Terus kalo tahun 2012? (Jangan bilang Kiamat sudah dekat!)

Benar pernyataan Rasulullah, “Kawinilah gadis…”! Pengalaman bercintanya pertama kali hanya dengan suami. Apapun kelemahan dan kekurangan suami (yang tidak bertentangan dengan hukum syara), ia akan menerimanya. Karena ia belum punya pembanding yang lebih perfect sebelumnya. Cintanya akan ia tumpahkan seutuhnya untuk sang suami.. Betapa indah!

Nah, bagi wanita yang lagi pacaran… hati-hati… hatimu ternoda. Jangan biarkan dirimu termangsa. Kalo bisa, langsung minta nikah ke cowoknya. Cowok biasanya ingin enaknya aja, tapi gak mau tanggung jawab. Ibarat kata, “Cowok lo yang makan nangkanya orang lain yang kena getahnya…” (hmm, udah mulai 17+ nih).

Kalo cowok gak mau menikahimu atau belum siap nikah, putusin aja sebelum mereka semakin banyak menggoreskan noda. Setelah pria memberi noda, apakah Anda bisa menjamin mereka tetap di samping Anda? Tak ada penjara yang mampu memenjarakan hati pria di dunia ini ketika pria itu sudah dapat apa yang diinginkannya.

Selamatkan diri Anda segera! Soal jodoh, serahkan pada Allah… lebih baik kita mempersiapkan diri menjadi wanita terbaik untuk suami kita kelak. Ketika Anda bersiap diri, insya Allah jodoh akan menghampirimu. Kelak, belajarlah mengenal suami apa adanya. Anggap saja, ia lelaki pertama yang engkau kenal.. Dialah lelaki sejati yang akan menemanimu sepanjang hayat. Jangan kau sakiti mereka dengan mengungkap dosa lama. Dengan membandingkan dan memimpikan sang mantan atau pujaan dalam kehidupan rumah tangamu. Tutuplah masa kelammu.. pejamkan mata dan bertaubat.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”[Qs Al-Baqarah:222].

“….janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[Az Zumar:53]. Wallahu a’lamu bish-shawab. (Ken Ahmad)

Ketika Hati Wanita Ternoda (#1)

“Kamu koq gak romantis sih? Sesekali kasih dong aku bunga!” Rani menggerutu dan cemberut di hadapan suaminya. Sang suami memang polos dan tidak pandai mengungkapkan kata-kata cinta. Sebenarnya sang suami bukan tak cinta, namun ia punya cara lain dalam mengekspresikan cinta. Baginya, kerja keras untuk menafkahi keluarga serta sesekali membantu pekerjaan istri di rumah adalah bentuk cinta kepada istrinya. Memang kekurangannya adalah kaku dan tak pandai berucap romantis.

Lain Rani, Lain pula Rebeca. Tadi malam Rebeca ngambek kepada sang suami. Keinginannya untuk membeli baju baru tak kesampean lantaran penghasilan sang suami pas-pasan. Rebeca memiliki tipe suami P13 … Pergi Pagi Pulang Petang Pinggang dan Pundak Pegal-Pegal Penghasilan Pas-Pasan Potong sani Potong sini… (seterusnya tambahin sendiri ya?! hehe).

Ada lagi. Yayuk namanya. Dia sudah cape jadi kontaktor terus bersama suaminya. Pindah-pindah kontakan udah biasa. Maklum, cari yang murah. “Ayah, kapan kita punya rumah sendiri? Kan gak enak pindah-pindah memulu”, Yayuk bersungut-sungut ke suaminya. Sang suami hanya terdiam. Ia tampak sedih membatin, di dalam kontakannya. Kontrakan yang baru ia dapatkan susah payah. Cari yang murah, namun enak ditempati memang sulit. Ia hanya bisa dapatkan rumah dengan tipe RS7… Rumah Sangat Sederhana dan Sempit Sekali Sisinya Sawah dan Selokan… (lebai ini sih, hehe).

Usut terusut…

Rani… ternyata pernah memiliki mantan yang super romantis. Bertolak belakang dengan sang suami. Pantas, ia selalu menuntut suami agar wajib bersikap romantis

Rebeca… ternyata pernah memiliki pujaan hati anak gedongan. Saat pacaran dengan sang mantan, Rebeca sering dibelikan baju walau ia tak memintanya. Bertentangan dengan sang suami, jangankan beli baju… beli garem sama terasi aja sulit.. maklum dah, wong pailit.

Terakhir, Yayuk. Ternyata eh, ternyata… ia pernah pacaran dengan putera konglomerat. Sang putera sudah dibangunkan rumah mewah oleh ortunya sebagai persiapan untuk keluarganya kelak. Tentu saja, ini kontadiktif dengan Paijo, sang suami yang dengan banting daging dan tulang pun, belum mampu menyediakan rumah yang nyaman bagi Yayuk.

Dari peristiwa di atas, saya jadi teringat sebuah hadist… pesan Rasulullah kepada yang hendak menikah.

“Kawinilah gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih sedap mulutnya, lebih banyak melahirkan, dan lebih rela menerima (pemberian, nafkah) yang sedikit.” (HR Thabrani)

Seorang gadis yang hatinya belum disinggahi perasaan cinta, ketika ia menikah akan lebih jernih ungkapan perasaannya. Akan terlahir kemesraan yang lebih hangat. Sedap mulutnya. Ada canda yang menyegarkan jiwa, ada juga gelak tawa kecil yang renyah. Bisa bermesraan saat-saat berdua dengan cubitan cinta (rada mendayu-dayu nih, hihi). Kita juga bisa saling gigit dengan gigitan sayang (jangan terlalu keras, nanti sariawan! Hehe). Akibatnya, letih dan penat yang kita rasakan saat pulang, rasanya hilang tanpa bekas. (Tunggu ya, bagian2 ) (Ken Ahmad).

Wanita Shalehah, Siapa Yang Memetikmu?

Bagi wanita, proses mencari jodoh diibaratkan sama dengan buah apel…

“Suatu saat di pagi yang cerah. Angin bertiup tenang. Sinar mentari lembut menerangi alam.Tapi sayang, itu semua tidak dapat meredam kegundahan hati sebuah apel yang berada tinggi nun di pucuk. Sejak seminggu lalu Apel itu sibuk berfikir, kenapa aku tidak dipetik orang? Padahal… kulitku licin mulus. Warnaku merah bersinar. Siapa yang melihat pasti meluap-luap seleranya. Pasti mereka terbayang betapa manisnya rasaku. Tapi… kenapa aku tidak dipetik orang?

Apel tersebut memandang ke bawah. Heran, kenapa manusia lebih memilih kawan-kawannya yang berada di bawah sana. Bukankah mereka tidak mendapat udara yang bersih dan cahaya mentari seperti aku yang berada di puncak ini? Bukankah kawan-kawanku itu banyak yang telah rusak karena seranggga?

Apel tersebut bingung memikirkan kenapa rekan-rekannya yang telah banyak tersentuh dan penuh debu menjadi pilihan, bukan dirinya yang belum tercemar dan dijamah orang. Apa kekurangan diriku?

Perasaan rendah diri mulai merasuk. Makin lama makin kuat, diselangi rasa kecewa dan bimbang. Murungnya tidak terbendung lagi. Lalu, pada pagi yang damai dan indah itu, apel tersebut memutuskan menggugurkan dirinya ke tanah. Ketika sudah berada dibawah, hatinya gembira bukan kepalang. Sedetik lagi aku akan dipilih manusia. Warna merahku yang berkilau dan kulitku yang licin mulus ini pasti mencairkan liur mereka.

Sang apel menanti manusia beruntung itu. Sayang sekali, sampai malam tiba, tiada seorang pun datang mengambilnya. Rasa gembira pun bertukar menjadi risau dan sedih.

Siang berganti malam, hari berganti minggu. Kasihan..akhirnya apel tersebut busuk di tanah menjadi makanan ulat dan serangga. Membusuk dan terinjak-injak manusia.”

Wanita itu ibarat apel. Buah yang tidak berkualitas amat mudah dipetik, dijamah dan diambil orang. Tapi apel yang berkualitas, tidak terjangkau dan sulit dijamah orang. Susah dipetik, susah digapai. Mahkota seorang gadis adalah Keimanan dan ketakwaannya. Apabila hilang iman dan takwanya, hancurlah pesonanya. Wanita sanggup jatuhkan martabat tingginya supaya dijamah orang lain.

Wahai wanita shalehah yang tinggi martabatnya… yang terpelihara kehormatan dan izzahnya…

Bersabarlah! Disaat tak ada yang memetik karena ketinggianmu. Janganlah obral jiwamu hingga kau rela dipetik dan dijamah oleh siapapun. layaknya seperti apel yang mudah dipetik di pinggir jalan. Tungulah, Allah pasti mengirimkan orang yang bersedia memetikmu di ketinggian. Ketinggian yang hanya bisa dipanjat dengan energi keimanan dan ketakwaaan seseorang.

Ya Allah… Kutahu, betapa banyak “perhiasan dunia terindah ini” mulai gundah. Gelisah menantikan seseorang. Sepertiga abad penantian kadang tak cukup mendatangkan satria-satria pemetik apel yang dinantikan. Wahai zat yang menguasai seluruh makhluk, jangan biarkan wanita-wanita mulia ini lelah di ketinggian, hingga ia menjatuhkan diri tersungkur dari kemuliaan. Teguhkan hati mereka. Selamatkan mereka.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya mereka sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepada mereka… Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada wanita-wanita shalehah jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati.

Baca juga: Menjaga Kehormatan Wanita dengan memahami pria.

Wallahu a’lamu bishshawab. (Ken Ahmad)

Modal Nikah Bukan Uang, Sobat!

Tak bisa dipungkiri uang dibutuhkan dalam hidup ini, namun bukan hal yang utama terutana kaitannya dengan mencari jodoh. Karena, Allah sudah menjami rezeki semua mahkluk-Nya. Maka terkait dengan nikah, uang bukanlah modal nikah. Simak kisah nyata berikut yang menggambarkan pernikahan sedernaha dan uang bukanlah segalanya.

Ada cerita yanMenikah butuh uangg mungkin menarik untuk disimak. Ini bukan ramalan jodoh. Kisah nyata…

Satu tahun yang lalu, seseorang ditanya oleh guru ngajinya, apakah kamu sudah ada niat menikah? Saat itu usianya tepat 23 tahun. Ia pun menjawab akan menikah satu tahun lagi karena gak punya biaya nikah. Kemudian ia gunakan waktu satu tahun untuk mengumpulkan uang biaya nikah.

Ternyata selama satu tahun, ia malah kecanduan kegiatan tertentu (halal) yang menguras banyak uang. Hingga hari ini ia ga punya uang sedikit pun untuk menikah. Waktu dan uang terbuang sia-sia. Baru-baru ini guru ngajinya bertanya lagi, “Kapan anda ada niat nikah?”

Ia pun menjawab “Beberapa bulan ke depan saja”, (bila ada calon yg bersedia).

Sungguh aneh memang, menunda waktu nikah dengan alasan mengumpulkan biaya nikah malah sekarang gak punya uang sedikit pun. Sungguh kontraproduktif dan berlawanan dengan kehendak!

Hal tersebut sering terjadi padapara ikhwan. Bahkan kebanyakan orang terlalu mengandalkan logika dunia dan lupa bahwa Allah pencipta dunia dan pemberi rizki hingga tidak ada satu hewan melata pun luput dari pemberian rizki-Nya.

Memang uang perlu dipersiapkan, namun uang bukan hal yang dijadikan keutamaan. Karena, menikah adalah salah satu bentuk rizki yg telah ditakdirkan. Tidak perlu ragu menjemput rizki yang telah Allah gariskan. Bahkan Allah berfirman “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32).

Namun, mayoritas orang mengira dengan banyak uang akan mudah menikah? Tidak juga. Jodoh bukan ditentukan oleh uang. Fenomena yg “aneh” dan kontraproduktif di atas sebenarnya bukan hal aneh, karena soal jodoh, Rizki, maut hanya Allah yang tahu. Karena sudah ditentukan, jodoh hendaknya kita jemput dan terima baik ada uang ataupun tidak.

Kesimpulannya, bila anda sudah bertemu calon (saling suka) maka jangan lagi menunda-nunda nikah, berdoa, lamarlah dengan rizki yang ada, tawakkal, serahkan semua soal rizki pada Allah, insya Allah ada jalan dan lancar.

Saya jadi teringat kisah pribadi… Waktu itu, suami saya nekad melamar saya walau gak punya uang. suami saya bilang ke orang tua saya: “saya punya uang hanya untuk syukuran, apakah ibu mau menerima saya sebagai menantu?”. Saat itu orang tua saya terlihat bingung dan kaget… mereka pun gak punya uang, makanya ortu langsung menjawab, “satu tahun lagi de, kami izinkan ade untuk menikah (de: panggilan ortu terhadap suamiku waktu itu)”. Kemudian, suamiku menyahut: “Jika rencana bapak-ibu demikian, berarti puteri bapak-ibu bukan jodoh saya. Maaf, saya hanya punya dua pilihan: MENIKAH SAAT INI atau TIDAK MENIKAHI ANAK BAPAK-IBU SELAMANYA.

Alasan suami cukup sederhana, jika ditunda tahun depan ia khawatir terjerumus dosa selama masa penantiannya. Selain itu, ia meyakini, jika jodoh pasti pernikahan akan terjadi. Jika tidak disetujui, artinya bukan jodoh. Saat itu pula suamiku langsung pamit dan meminta maaf kepada kedua orang tuaku karena anaknya bukanlah jodohnya.

Ketika pulang, suamiku ditawari untuk menikahi akhwat lain. Kebetulan, akhwat tersebut sudah siap dan ingin menyegerakan menikah. Tentu saja, itu sesuai dengan keinginan suamiku yang ingin cepet-cepet menikah juga.

Satu minggu kemudian, keajaiban terjadi… Ibuku menghubungi suamiku sesaat sebelum suamiku menghubungi akhwat lain yang hendak ia ta’arufi. Menurut suamiku, ia akan menghubungi akhwat lain ba’da ashar. Namun, sebelum ashar tiba, tepat pukul 3 sore, ibu menghubungi suamiku dan menyetujui pernikahan kita. Bayangkan, kami hanya mempersiapkan pernikahan selama satu bulan semenjak ibuku menghubungi suamiku. Saat itu, suamiku juga ortu gak punya uang untuk merayakan pernikahan. Suami tetap tegas, punya uang ataupun tidak, pernikahan harus tetap diselenggarakan.

Hari demi hari menuju tanggal pernikahan kami lalui… Tidak disangka, semuanya dimudahkan. Saudara dari pihak lelaki maupun perempuan, tanpa diminta, berinisiatif untuk membantu… Hingga pada hari H, kami bagaikan raja dan ratu… tidak kurang dari 600 lebih tamu hadir ke pernikahan kami. Tamu yang lumayan banyak untuk ukuran pernikahan sederhana. Tapi, yang terpenting adalah bukan hal itu. Yang penting, kami berdua sudah menjadi suami istri dan halal untuk berkasih sayang dan mengekspresikan cinta yang telah Allah karuniakan.

Bagaimana dengan anda, apakah juga pernah menunda-nunda pernikahan hanya karena hambatan Harta? Baca juga artikel: Nggak Nikah Sebelum Sukses. Bagaimana pendapat akhi dan ukhti tentang peristiwa ini ? Wallahu a’lamu bish-shawab. (Ken Ahmad)