Nggak Pede Deketin Lawan Jenis

nggak pede deketin lawan jenisNggak pede deketin lawan jenis. Tulisan ini buat yang sedang mencari jodoh. Sebagian orang mengalami masalah yang satu ini. Salah tingkah, gugup, keringat dingin, dan serba salah ketika bersebelahan, berdekatan, berbicara, atau bertatapan dengan lawan jenisnya. Tidak peduli ia seseorang yang periang, pemberani, banyak bicara, atau pecicilan sekalipun, begitu menghadapi lawan jenis ia langsung berubah 180°. Apakah Anda termasuk jenis seperti ini?

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi kurang percaya diri seperti ini, diantaranya adalah kekurangan fisik, trauma masa lalu, didikan keluarga, dan pengaruh lingkungan. Ada yang merasa minder karena bertubuh gemuk, memiliki postur tubuh yang mungil, wajah dipenuhi jerawat, atau gigi tonggos. Ada juga yang merasa rendah diri karena berasal dari keluarga kurang mampu, atau sering mengalami kekerasan fisik sejak kecil, atau kerap dicemooh dan dikucilkan oleh teman-temannya. Bagi mereka, hal-hal seperti ini telah terprogram dalam pikiran bawah sadarnya, hingga terbawa sampai dewasa. Allah berfirman dalam surah At-Tin berikut:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Lantas, sampai kapan mau terus bersikap seperti ini? Tidak adakah perasaan jatuh cinta pada seseorang dan keinginan untuk berkenalan dan mendekati mereka? Maksud kami mendekati lawan jenis dalam hal harus masih dalam batasan yang diperbolehkan dalam Islam.

Allah telah menciptkan manusia berpasang-pasangan. Tugas kita adalah mencari dan menemukan pasangan yang telah Allah siapkan tersebut. Namun, bagaimana kita mendapatkannya jika kita terus merasa rendah diri, minder, malu, atau tidak percaya diri? Apakah mau berdiam diri saja menunggu jodoh yang datang kepada kita? Boleh saja diam menunggu. Hanya saja tidak jelas sampai kapan harus menunggu dan entah siapa yang datang. Mending kalau yang datang itu seseorang yang kita taksir, atau orang yang baik perangainya, ditambah cantik atau ganteng pula. Bagaimana kalau yang datang itu playboy berbulu domba? Atau ibu-ibu yang usianya jauh di atas kita?

Rasa percaya diri sebenarnya bisa dilatih di rumah. Sama halnya seperti berlatih berbicara sebelum mempresentasikan suatu produk atau hasil penelitian. Perhatikanlah sikap presenter ketika membacakan berita, pembawa acara ketika membawakan acara, atau reporter ketika mewawancarai narasumber. Sikap membawa diri yang baik juga bisa dipelajari melalui video yang bisa diunduh dari internet. Perhatikan bagaimana mereka berdiri, duduk, berjalan, mengatur gerakan tubuh, tangan, kaki, dan mata, ekspresi wajah, cara mendengarkan, cara mengangguk, cara berpakaian, kerapihan diri, hingga cara berbicara.

Selanjutnya, latihlah diri kita sendiri. Latihan bisa dilakukan di depan kaca atau dengan membayangkan bahwa kita sedang berbicara di depan orang banyak. Latihlah agar tubuh kita bergerak luwes, tidak kaku, tidak terlalu banyak gerakan. Juga latihlah cara kita berbicara, dimulai dengan menggunakan kosa kata yang tepat, berbicara perlahan atau tidak terburu-buru, dengan suara sedang alias tidak terlalu pelan atau terlalu keras. Latihlah juga untuk terbiasa tersrnyum. Dengan senyum yang ikhlas tanpa paksaan, kita akan terlihat sebagai pribadi yang menyenangkan.

Latihan dapat dilakukan sesering mungkin. Kika perlu, minta tolong keluarga atau teman yang kita percayai untuk menilai perubahan diri kita. Jika kepercayaan diri mulai muncul, cobalah praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Praktikkan ketika berbincang dengan teman, guru, dosen, rekan kerja, klien, pengemis, pengamen, tukang baso, tukang bubur, tukang sampah, dan siapa saja, hingga itu melekat dan tertanam pada alam bawah sadar kita.

Selanjutnya, cobalah praktikkan pada orang yang kita sukai. Tetaplah tenang, fokus, jangan grogi, dan sadarlah bahwa ia juga seorang manusia, yang tidak akan menerkam atau menggigit Anda. Tarik napas dalam-dalam. Pada tahap awal, sebaiknya membincangkan hal-hal sederhana terlebih dahulu. Seperti sekedar menyapa, mengucapkan selamat pagi/siang, atau menanyakan apakah sudah sarapan atau belum. Lalu lanjutkan dengan perbincangan seputar pekerjaan, tugas sekolah atau tugas kuliah, diskusi tentang pelajaran tertenyu, hingga masalah-masalah yanh sedang hangat di masyarakat. Jangan terburu-buru membicarakan tentang perasaan And terhadapnya, karena itu akan mengagetkannya. Bisa-bisa si dia malah menghindar dan misi kita gatot alias gagal total. Biarkan perbincangan tersebut mengalir secara alami, tanpa adanya unsur paksaan atau dibuat-buat.

Kita lihat bagaimana perkembangannya. Perhatikan bagaimana sikap merespons kita. Apakah dingin, atau malah menyambutnya dengan hangat. Apakah ada kecocokan atau malah tersendat-sendat? Dari situ kita dapat menentukan langkah selanjutnya. Maju atau mundur. Lanjutkan perjuangan untuk mendapatkannya atau mengalah untuk memenangkan hati yang lain. Sekiranya dari percobaan pertama gagal, jangan cepat menyerah. Setidaknya, dari usaha ini kita telah berhasil memupuk rasa percaya diri. Lakukan lagi dan lagi pada orang lain. Semoga berhasil.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s