Selingkuh: Antara Nikmat dan Laknat

Lafal selingkuh berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya. Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong. Dengan makna bahasa ini, kalau mau jujur, sebenarnya dalam diri kita ada bibit-bibit ‘selingkuh’, atau mungkin kita justru sudah terbiasa ber’selingkuh’ tanpa kita menyadarinya. Kita terbiasa tidak ‘jujur’, lidah kita mengatakan A namun hati dan pikiran kita mengatakan yang lain. Kita bilang ‘I Love You’ padahal hati kita bilang ‘I don’t know’ atau yang lain. Per’selingkuh’an seperti ini kalau tidak diatasi, dengan berusaha maksimal dan memohon karunia Allah SWT, niscaya bisa menjadi perselingkuhan yang sebenarnya. Ada kisah ‘selingkuh’ yang kita mungkin berat untuk mengobatinya:

Berkata Abu ‘Ali ad Daqqaq: aku mengunjungi orang shalih saat ia sakit, dan beliau termasuk masyâyikh al kibâr (diantara syaikh yang besar), beliau dikelilingi oleh para muridnya, beliau dalam kondisi sedang menangis, beliau telah sampai dalam usia udzur. Maka aku bertanya kepadanya: wahai syaikh, apa yang membuat engkau menangis, apakah karena urusan dunia? Jawab beliau: sekali-kali tidak (karena urusan dunia, tetapi aku menangis karena luput dari sholatku. Maka aku bertanya lagi : bagaimana itu terjadi padahal engkau senantiasa sholat? jawab beliau : Karena aku tinggal mempunyai hari-hari ini (dalam udzur), namun aku tidaklah sujud (dalam shalat) kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), dan tidaklah aku mengangkat kepalaku kecuali dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah), dengan demikian aku (khawatir) akan mati dalam keadaan lalai (dari mengingat Allah)… (Al Ghazali –Mukâsyafat al Qulûb, hal 18).

***

Adalah wajar kalau kita terbiasa ‘membohongi’ Allah, kita mengatakan cinta kepada-Nya, namun saat kita menghadap-Nya pun hati dan pikiran kita terpaut pada yang lain, kita mengaku cinta kepada-Nya, namun kita lebih senang membuat Ia murka, kita mengaku cinta kepada-Nya, namun kita lebih senang mentaati selain-Nya, kita lebih loyal kepada yang lain, pada hal kita sadar Ia Maha Melihat, maka lebih mungkin lagi kita membohongi siapapun yang tidak melihat dan tidak mengetahui isi hati kita. Semoga Allah menolong kita untuk membersihkan jiwa kita.

اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها

“Wahai Allah, berikan ketaqwaan pada diriku, dan bersihkanlah dia (karena) Engkau adalah sebaik-baik penyuci(jiwa), Engkau pelindung dan Engkau pula pemimpinnya” (HR Ahmad).

***

Lafal selingkuh sekarang lebih dekat kepada makna hubungan gelap antara orang yang sudah bersuami atau beristeri dengan pasangan lain. Kalau pacaran dianggap bukan selingkuh, tetapi kalau diam-diam ada pacar lain lagi, baru dianggap selingkuh. Ini semua makna-makna yang berkembang, tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan syariat Islam, karena Islam tidak memperbolehkan pacaran (dalam makna sering berduaan apalagi sampai lebih dari itu).

Setiap 2 jam ada yang cerai akibat selingkuh. Penelitian yang pernah dilakukan oleh dr. Boyke Dian Nugraha di klinik Pasutrinya, terhadap 200-an orang pasiennya. Menunjukkan hasil 4 dari 5 pria eksekutif (80%) melakukan perselingkuhan. Perbandingan selingkuh pria dan wanita pun berbanding 5:2. Padahal data ini didapat dari yang mengaku saja. Tahun 2005 lalu, ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. (Republika, Ahad, 7 Januari 2007/ 17 Dzulhijjah 1427H, halaman 02)

***

Dari Ibnu Abbas r.a, Rasulullah bersabda:

إذا ظهر الزنا و الربا في قرية فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله

Jika telah nampak dengan jelas zina dan riba dalam suatu kota, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan adzab Allah atas mereka (HR. Al Hakim dalam al Mustadrak, ia mengatakan  hadits ini sanadnya sahih menurut Bukhari dan Muslim dan mereka berdua tidak mengeluarkannya, Adz Dzahabi juga men sahihkannya)

Ketika pelacuran justru dilegalkan, ditarik pajaknya, pernikahan justru dipersulit, orang yang berzina bahkan sampai melahirkan anak tanpa jelas siapa bapaknya justru di tokohkan dan diiklankan serta dijadikan rujukan, riba dibiarkan dan disamarkan namanya seolah-olah menjadi halal, aturan Allah diingkari, … siapa sebenarnya yang sedang melakukan penghancuran atas negeri ini?

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.(QS. An Nisa’ : 61 – 62) Allahu A’lam. (M. Taufik N.T)

3 thoughts on “Selingkuh: Antara Nikmat dan Laknat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s