Ikhwan Bercincin Besi (Bagian 3)

Suatu hari, hujan deras memaksa sang ikhwan berteduh di sebuah gedung tua. Sang ikhwan baru pulang kerja. Itu adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan. Di situ, ia menyaksikan seorang lelaki buta dituntun oleh seorang wanita. Mereka mencari tempat duduk untuk berteduh. Di sudut gedung tua itu, sang wanita menyeka air hujan yang mengenai wajah si buta. Begitu penuh kasih sayang di antara keduanya. Si Buta paruh baya itu beristrikan seorang muslimah muda nan cantik.

“Subhanallah, Allah Maha Pemberi Rahmat (kasih sayang), bahkan si buta pun tak luput dari kasih sayangMu ya Allah”, Sang ikhwan terharu dan tersadar betapa besar kasih sayang Allah terhadap hambaNya.

Beberapa saat yang lalu, ia sempat trauma, putus asa, dan lupa akan rahmat Allah. Bahkan pernah tersisip niat tak akan menikah. Padahal Allah berfirman, “Janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidakberputus asa terhadap rahmat Allah kecuali orang-orang yg kafir” (Yusuf:87)

Satu minggu kemudian, sang ikhwan mendapat undangan menghadiri rapat kerja tahunan organisasi dakwah di kampusnya. Sebagai mantan pengurus, ia tentu merasa penting untuk datang.

Saat acara berlangsung, seorang wanita tergopoh-gopoh membawa sekardus makanan. Ia kemudian menyerahkan satu paket konsumsi tersebut ke panitia laki-laki. Sang ikhwan sesaat melihat wanita tersebut, lalu ia termenung…

“wanita pembawa konsumsi tadi serasa tak asing, hm… Ya Allah! Bukankah ia adalah wanita yang kulihat tempo hari bersama suaminya yang buta? Ternyata dia seorang mahasiswi”, sang ikhwan terkejut membatin.

“Sssssttt… koq kamu memperhatian akwat pembawa konsumsi itu terus? Kalau suka lamar aja walaupun belum tentu diterima, hehe.. Saingan ente pasti banyak kalo mau melamar dia”, kata kawannya yang masih jadi mahasiswa.

Sang ikhwan terperanjat… “Astaghfirullah, saya tidak sengaja.. semoga Allah mengampuni dosa saya karena tidak menundukkan pandangan terhadap wanita itu. Saya cuma heran dengan akhwat itu, bukankah dia sudah menikah… saya pernah melihat ia bersama suaminya yang, maaf, buta. Tadi aku dengar ente bilang kalo suka dia, dilamar aja? Gak salah tuh, melamar istri orang?” Tanya sang ikhwan penuh heran.

“Weitttttss.. sembarangan ente, wanita muda n cantik gitu dibilang udah punya suami.. yang ente Maksud itu pasti bapaknya bukan suaminya… Wk wk wk wk…”, sang ikhwan menjadi bahan tertawaan kawannya.

“Masya Allah, saya salah sangka donk…”, Sang ikhwan sedikit malu terhadap kawannya itu. Namun, justru berawal dari situ, ia semakin terkesan dengan akhwat pembawa konsumsi itu. Apalagi sang ikhwan memang sedang melakukan pemburuan.. memburu jodoh yang tak kunjung datang.

Walau banyak pesaing, sang ikhwan takan gentar. Ia akan tetap berusaha dan bertawakal memburu targetnya. Kali ini: akhwat pembawa konsumsi.

Setelah mendapatkan info alamat e mail akhwat yang diburunya, sang ikhwan langsung mengirimkan surat:

Kepada YTH

Calon istri saya, Calon ibu anak-anak saya, dan Calon bidadari surgaku
Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya seorang yang menginginkan ukhti untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Singkat cerita, akhwat puteri seorang lelaki buta itu pun menerima dan telah men-komunikasikan dengan kedua orang tuanya. Orang tua akhwat ini sangat mengerti agama… walau ia tahu bahwa sang ikhwan adalah lelaki sederhana, mereka dengan terbuka dan senang hati menerimanya.

“Sebulan lagi, kita langsungkan pernikahan. Bukankah Rasulullah menyerukan untuk menyegerakan pernikahan jika jodoh sudah datang?” Ayah yang buta itu menodong langsung sang ikhwan untuk menikahi puterinya.

“Baiklah, Insya Allah saya terima tantangan bapak”, jawab sang ikhwan penuh keyakinan, walaupun sebenarnya ia merasa kaget dan tidak sangka akan secepat itu.

Sang ikhwan tak punya uang… Uang gajinya bulan ini sudah ia kirimkan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya.

Menjelang hari pernikahan, sang ikhwan hanya mampu membayar uang administrasi KUA. Uang sisa hanya Rp 50 ribu. Sang akhwat memang tidak meminta apa-apa. Ia hanya meminta cincin kawin sebagai saksi pernikahannya. Dengan uang Rp 50 ribu, sang ikhwan jalan-jalan mencari sesutu yang bisa dijadikan sebagai mas kawin. Tepat di pinggir jalan, ia melihat tukang aksesoris menjajakan barang-barangnya. Mata sang ikhwan langsung tertuju pada sepasang cincin besi, ia menawar dan membelinya.

“Ukhti, cincin ini sebagai tanda ikatan perkawinan kita… memang tak seberapa, harganya pun cuma Rp 30 ribu. Namun, jangan dipandang dari harganya…lihatlah itu sebagai symbol akad nikah yang akan kuucapkan atas nama Allah. Akad suci mitsaqon ghalida (perjanjian yang kuat). Akad yang Allah anggap setara dengan perjanjian antara Allah dengan para nabi dan RasulNya. Cincin ini menjadi saksi perjanjian kuat tersebut. Semoga engkau menerimanya”, tulis sang ikhwan di kertas yang ia kirimkan beserta sepasang cincin, dua hari sebelum pernikahan.

Sang akhwat mengirimkan sms:
“Akhi, cincinnya sudah saya terima. Aku hanya bisa menangis terharu dan bahagia menerimanya. Semoga Allah mempersatukan kita di dunia maupun di akhirat. Aku sudah mantap akan mengarungi kehidupan bersama akhi. Sampai jumpa di pelaminan. Calon istrimu.”

Pernikahan sederhana penuh barokah terlaksana sudah. Mereka kini hidup bahagia dengan satu orang putera. Kehidupan ekonominya telah membaik. Mereka bersama merintis bisnis. Cincin besi itu pun hingga kini masih melingkar di jari suami-istri tersebut. (Ken Ahmad)

7 thoughts on “Ikhwan Bercincin Besi (Bagian 3)

  1. Mudah2an ªǭ juga mendapatkan pasangan hidup yg bisa membuatku selalu ϑį jalan Allah آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s