Ikhwan Bercincin Besi (Bagian 1)

Dorongan ekonomi membawa bunda pergi ke negeri orang. Menyusul Ayahanda yang telah dulu menjadi TKI (Tenaga Kerja Ilegal… Ilegal menurutku, karena hal itu tak pernah diizinkan keluarga.. anak-anak terlantar karenanya)

Alih-alih bertemu ayah, ibunda malah terdampar. Hingga terdengar kabar ibunda meninggal karena kekurangan oksigen di kamar pembantu, di sebuah rumah elit, di Negara Saudi Arabia. Ibunda meninggal dalam kondisi tak wajar. Tak ada jasad. Tak ada wajah yang bisa dilihat sang bocah untuk terakhir kali. Yang diterima hanya kabar ibunda telah disemayamkan. Entah dimana…

Sebulan kemudian… ayahanda yang tak pernah bertemu bunda di negeri orang pun pulang. Hati sang bocah berumur 6 tahun ini sangat senang. Ia ingin bertemu ayah yang selama ini tak pernah terlihat. Ia ingin meraba, menyentuh dan bermanjaan dengan sang ayah.

Begitu besar kerinduannya, hingga ia salah mengenal orang. Orang yang datang ke rumah dikira ayah… Sang bocah menarik-narik tangan sang tamu dan berkata, “Ayah, ayah lama sekali meninggalkan aku… aku pengen digendong ayah”.

Sang bocah telanjang yang hanya mengenakan celana pendek itu pun langsung menaiki punggung orang yang ia kira ayahnya dengan riang… Menyaksikan hal itu, sang tamu langsung menitikkan air mata… sambil memindahkan posisi bocah yang digendongnya ke arah depan, ia pun memeluk erat sang bocah. Namun, ia tak sanggup berkata-kata, apalagi untuk menyampaikan kepada sang bocah bahwa ayahnya di RS tak berdaya karena sakit liver stadium IV.

Tak berapa lama.. sang bocah tahu ayah meninggal di sebuah RS di Jakarta. Bagai sehidup semati, kepergian ibunda disusul ayahanda hanya dalam waktu sebulan…

***

Sejak ditinggal kedua orang tua 20 tahun silam, hidupnya terasa gersang. Tak ada lagi tetesan kasih membasahi jiwanya yang mengering. Tak ada topangan motivasi di saat-saat hidup terasa sulit. Tiada penadah saat raganya rapuh dan hendak terjatuh…

Hidupnya bagai di alam liar. Mencoba bertahan di tengah belantara kehidupan yang kejam. Masyarakat tampak acuh dan langka uluran tangan. Namun Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, selalu menyelamatkannya di saat-saat terdesak. Buktinya, selama ini ia berhasil tumbuh walau miskin dan penuh kesederhanaan.

Ia meyakini bahwa Allah yang selalu mengawasi dan memberikan rizki selama ajal belum menjemputnya. Sebagaimana sebuah hadist mengatakan, “…Karena sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya….”(HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Alhamdulillah, sang bocah telah tumbuh dewasa. Segala bentuk kesulitan dan penderitaan telah menghantarkannya pada majelis-majelis. Ia selalu mencari jawaban atas segala kesulitan yang dialaminya melalui pengajian-pengajian. Dan, kini ia telah jadi seorang ikhwan.

Namun, kehausan kasih yang selama ini terpendam tetap saja tak bisa hilang dengan pengajian. Kesunyian kerap kali menghampirinya… Sang ikhwan merindukan kasih yang tak pernah ia dapatkan. Sudah menjadi fitrah manusia ingin dikasih dan mengasihi, ingin dicinta dan mencintai.

Setiap kali ia membutuhkan cinta, ia hanya bersimpuh dan bercengkrama dengan Allah di keheningan malam. Namun, tetap saja itu tak cukup. Masih ada keresahan yang mengganjal. Hingga ia menyadari bahwa ia membutuhkan cinta Allah dalam bentuk lain. Yaitu, cinta dari sejenisnya yang telah Allah ciptakan agar manusia bisa merasa tentram. (Bersambung. ke bagian 2.) (Ken Ahmad)

3 thoughts on “Ikhwan Bercincin Besi (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s