Naluri Seksual (#1)

“Mantabsss! Seksi en bohai bener tuh cewek… Pake celana pendek, kulit putih, wajah mulus, idung mancung, imut dan rambut panjang. Ahhhhhh gak tahan melihatnya.”

STOP ah! Jangan dilanjutin menghayalnya ya? Tundukkan padangan dan mari beristighfar sama-sama… ASTAGHFIRULLAH AL-ADZIM….. 100 X

======

Cowok tampan tiba-tiba duduk di hadapan kamu di sebuah angkot. Tampang-tampangnya mirip Darius. Tinggi, putih, badan tegap, wangi lagi. Terus senyum dan berkata, “Mbak geseran dikit donk, aku mau duduk di situ… di sini panas banget kena matahari.”

Gubraks… Ser-ser-nud.. cewek itu rada-rada salting diminta geser sama cowok ganteng. Sambil senyum-senyum dengan wajah memerah ia bergumam, “Wow, mimpi apa gue semalem, duduk bersanding dengan pangeran tampan.” Udah ya..?! Hentikan piktornya! Ayo istighfar lagi… ASTAGHFIRULLAH AL-ADZIM….. kali ini 1000 X.
======

Nah, sudah terasa ‘kan? Ada getaran yang bergejolak di seluruh tubuh. Merinding… Ahh, kalian pasti lebih jago membayangkannya. Ada dorongan untuk mendekati lawan jenis… Kadang dorongan ini tak terkendali.. Membuat insan muda gelisah-gelisah geli, merana, rindu, stress, kangen, Beteeee… Apalagi kalo malam minggu sepi sendiri… Wah, bisa-bisa sakau dach tuhw! Ada dorongan menuntut pemuasan. Bawaannya pengen deket-deket sama cewek mulu atau sebaliknya. Singkat cerita, banyaklah kaum muda-mudi nongkrong di mall-mall, tempat hiburan bahkan club-club malam. Hanya satu yang mereka cari: PEMUASAN NALURI SEKSUAL.

Sahabat TJ, Naluri itu ada memang bukan salah kita. Ia ciptaan Allah SWT. Namun, tahukah apa tujuan diciptakannya naluri seksual? Yaitu UNTUK MELESTARIKAN KETURUNAN MANUSIA, bukan yang lain. Naluri seksual terkait dengan pria dan wanita untuk melangsungkan keturunan, bukan untuk mencari kenikmatan semata. Dengan kata lain, naluri ini diciptakan Allah Swt. hanya untuk kehidupan suami-istri saja.

Penciptaan naluri seksual oleh Allah Swt. jangan dijadikan pembenaran untuk melakukan perzinahan. “Jangan salahkan jika kuingin ‘bercinta’, karena rasa itu dari awal telah ada, aku tidak mengundangnya, aku hanya mensyukuri nikmat yang bergelora, dengan bersenang-senang dan bercumbu ria”, itulah syair kebebasan pemuja syahwat.

Banyak masyarakat “modern” menganggap bahwa hubungan pria dan wanita sebatas meraih kenikmatan seksual semata. Akibatnya, tanpa harus nikah pun mereka tak segan-segan untuk (maaf) berhubungan intim. Kenapa harus nikah jika tujuannya sudah terpenuhi?

Oleh karena itu, pandangan tersebut harus dirubah. Hubungan pria dan wanita mesti disandarkan pada ketakwaan terhadap Allah Swt., bukan untuk mencari kenikmatan dan menuruti syahwat. Dalam pandangan Islam, kenikmatan dan kelezatan pemenuhan naluri seksual memang diakui. Tetapi, hal itu dilakukan sesuai syariat, mampu mewujudkan keturunan, dan selaras dengan cita-cita luhur seorang muslim, yaitu mendapat ridho Allah Swt. (Nyambung bro ke bagian 2..)

Naluri Seksual (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s