Menjauhi Zina

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” ( QS. Al Isra’: 32 ).

Ayat ini mengharamkan mendekati zina, larangan untuk melakukan zina jelas lebih keras lagi. Zina disebut sebagai “fâhisyah” yakni perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan diakui kekejiannya oleh setiap orang yang berakal, bahkan oleh sebagian banyak binatang, sebagaimana riwayat ‘Amru bin Maimun r. a ia berkata:

رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ

“Aku pernah melihat di zaman jahiliyyah seekor monyet sedang dikerumuni oleh monyet-monyet lainnya. Monyet itu telah berzina lalu monyet-monyet lain merajamnya (melempari dengan batu) dan aku ikut merajamnya bersama mereka”. [HR. Bukhari, No. 3560].

Dari Abu Umamah: Sesungguhnya seorang pemuda mendatangi Nabi Saw lalu berkata; Wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk berzina. Orang-orang mendatanginya lalu melarangnya, mereka berkata; diamlah!. Rasulullah Saw bersabda; “Mendekatlah.” Ia mendekat lalu duduk kemudian Rasulullah Saw bersabda; “Apa kau menyukainya (orang lain) berzina dengan ibumu?” pemuda itu menjawab; Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus tuan. Nabi saw bersabda; Orang-orang juga tidak menyukainya berzina dengan ibu-ibu mereka.” Rasulullah Saw bersabda; “Apa kau menyukainya berzina dengan putrimu?” Tidak, demi Allah wahai Rasulullah semoga Allah menjadikanku sebagai penebus Tuan. Nabi saw bersabda; Orang-orang juga tidak menyukai berzina dengan putri-putri mereka.” … Kemudian Rasulullah Saw meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya.” Setelah itu pemuda itu tidak pernah melirik apa pun. [HR. Ahmad, No. 21185]

Maraknya pornografi-pornoaksi dan perzinaan di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan yang melingkupi, yakni Sekularisme-Kapitalisme. Ketika kebebasan dilepaskan tanpa kendali agama, maka kenikmatan jasadiah dan materi akhirnya menjadi parameter kebahagiaan sekaligus priotas utama. Bagaimana tidak menggiurkan, omset dari pornografi dan pornoaksi di Indonesia sekitar Rp 48 trilyun/tahun lebih besar dari omzet BUMN (Muammar Emka, pada MU edisi 39, hal 5). Menurut PBB, perdagangan manusia (wanita) memberikan omzet USD 12 Milyar pertahun. Seorang mucikari di Albania mengaku membeli seorang wanita seharga USD 2.500, dan dalam beberapa hari sudah balik modal. Deplu AS (2003) menyatakan bahwa antara 800 ribu sampai 900 ribu orang diperdagangkan melintasi batas-batas negara. [Victor Malarek (2006), The Natashas: The New Global Sex Trade (terj.), hal 24 -25]

Islam dengan keseluruhan hukum-hukumnya menutup rapat-rapat pintu perzinaan. Itu bukan berarti Islam melenyapkan sama sekali naluri seksual. Namun Islam membatasinya hanya dalam pernikahan dan perbudakan (QS al-Mukminun [24]: 5). Pemuasan naluri seksual selain dengan cara itu terkategori sebagai perbuatan dosa besar.

Jika ditelisik, perbuatan zina sesungguhnya merupakan perbuatan lanjutan. Sebelum zina terjadi, ada sejumlah aktivitas yang menjadi pintu pembukanya. Oleh Islam, semua pintu pembuka zina ditutup rapat. Hal ini terlihat antara lain oleh:

1. Perintah untuk menjaga pandangan

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; (QS al-Nur [24]: 30).

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya … (QS al-Nur [24]: 31).

يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ

Wahai Ali, jangan engkau ikuti pandangan dengan pandangan berikutnya, karena bagi engkau adalah pandangan yg pertama, dan bukan hak engkau pandangan berikutnya. (HR. At Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Al Baihaqi dan Al Hakim, hadits hasan).

Suatu ketika, al-Fadhl ibn ‘Abbâs membonceng Nabi SAW pada saat haji, lalu datang seorang wanita dari Khats‘am. Al-Fadhl lantas memandang wanita itu dan wanita itu pun memandangnya. Maka Rasulullah memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain. (HR. al-Bukhârî dari Ibn Abbas)

“Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar masuk ke rumah Nabi SAW dengan menggunakan pakaian yang tipis, maka Rasulullah berpaling daripadanya dan berkata :

يَا أَسْمَاءُ إنَّ الْمَرْأَةَ إذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إلاَ هَذَا وَهَذَا , وَأَشَارَ إلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

‘Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita telah menginjak dewasa (haid), maka tak boleh terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil beliau menunjuk muka dan telapak tangannya”. (HR. Abu Dawud, Hadits Hasan Lighairihi, mempunyai saksi yang dikeluarkan oleh Al Baihaqi dari jalan Ibnu Lahi’ah dari ‘Iyadl bin ‘Abdillah)

2. Perintah untuk menutup aurat.

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

.. dan janganlah mereka (wanita yg beriman) menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak darinya. (QS al-Nur [24]: 31).

Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan ‘sesuatu yang biasa nampak’ adalah muka dan kedua telapak tangan, ini juga pendapat Ibnu ‘Umar, ‘Atha’, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu Sya’tsa, Adl Dhahhak, Ibrahim An Nakha’i dll (Ibnu Katsir)

Aurat lelaki terhadap lelaki adalah antara pusat dan lutut

اذا زوج احدكم عبده او اماته او اجيره فلا ينظر الى شيئ من عورته فانما تحت السرة الى الركبة عورة

“Jika salah seorang diantara kamu menikahkan hamba sahaya atau pembantunya, maka jangan melihat sesuatu yang termasuk aurat. Adapun apa-apa yang ada dibawah pusar hingga lutut adalah aurat”. (HR. Ahmad, Abi Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi, di hasankan oleh Al Albani).

3. Larangan berkhalwat dg wanita asing tanpa mahram.

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

”Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita (asing) kecuali bersama mahramnya”.(HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas).

4. Larangan ikhtilath (campur-baur laki laki dan perempuan, tanpa ada hal syar’iy yg mengharuskan bercampur baur, semisal saat haji, dll).

Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik baik shaf laki laki adalah shaf yang pertama dan sejelek jeleknya adalah shaf yang terakhir. Sebaik baik shaf wanita adalah yang terakhir dan sejelek jeleknya adalah shaf yang pertama.”[HR. Abu Daud, Muslim, Ahmad, Darimi, Nasa’i]

Dari Hamzah bin Abu Usaid Al Anshari dari Bapaknya Bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw berbicara saat berada di luar masjid, sehingga banyak laki-laki dan perempuan bercampur baur di jalan. Maka Rasulullah saw pun bersabda kepada kaum wanita:

اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ

“Hendaklah kalian memperlambat dalam berjalan (terakhir), sebab kalian tidak berhak untuk memenuhi jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggiran jalan.” Sehingga ada seorang wanita yang berjalan dengan menempel tembok, hingga bajunya menggantung tembok karena ia mendempel tembok.” [HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Al Albani]

5. Perintah untuk segera menikah jika sudah mampu, dan berpuasa jika belum mampu.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki ba`ah (kemampuan) hendaklah menikah, sebab itu lebih dapat menjaga pandangan dan kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaklah berpuasa, sebab ia bisa menjadi tameng baginya.”[HR. Ibnu Majah, Bukhory, Ahmad, Abu Dawud]

6. Dibolehkannya poligami.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [QS. An Nisa : 3]

7. Dimudahkannya urusan nikah.

Seorang wanita datang menemui Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku untuk Anda.” Lalu Rasulullah saw memandangi wanita itu, beliau arahkan pandangannya ke atas dan kebawah lalu beliau menundukkkan kepalanya. Maka wanita itu melihat bahwa Rasulullah saw tidak memberi putusan apa-apa terkait dengan dirinya, maka ia pun duduk. Tiba-tiba seorang sahabat berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak berhasrat kepada wanita itu maka nikahkanlah aku dengannya.” Maka beliau pun bertanya: “Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk dijadikan mahar)?” sahabat itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pergilah kepada keluargamu, dan lihatlah apakah ada sesuatu.” Laki-laki itu pun pergi dan kembali seraya berkata, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak mendapatkan sesuatu.” Beliau bersabda lagi: “Lihatlah, meskipun yang ada hanyalah cincin dari besi.” Laki-laki itu pergi laki kemudian kembali dan berkata, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah meskipun hanya cincin besi. Akan tetapi aku mempunya kain ini.” Sahl berkata; Ia tidak memiliki kain kecuali setengah. Maka Rasulullah saw pun bersabda: “Apa yang dapat kamu lakukan dengan kainmu itu. Jika kamu memakainya maka ia tidak akan kebagian, dan jika ia memakainya maka tidak akan kebagian.” Akhirnya laki-laki itu duduk hingga lama, lalu ia beranjak. Kemudian Rasulullah saw pun melihatnya hendak pulang. Maka beliau memerintahkan seseorang agar memanggilnya. Ketika laki-laki itu datang, beliau bertanya: “Surat apa yang kamu hafal dari Al Qur`an.” Ia berkata, “Yaitu surat ini.” Ia menghitungnya. Beliau bersabda: “Apakah kamu menghafalnya dengan baik?” laki-laki itu menjawab, “Ya.” Akhirnya beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dengan mahar hafalan Al Qur`anmu.” [HR. Bukhory]

إِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُ مُؤْنَةً

Sesungguhnya nikah yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan maharnya [HR. Ahmad, An Nasa’i, didalam sanadnya ada Isa bin Maimun, ia di dlo’ifkan oleh Ibn Hajar]

8. Negara bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat menjadi pribadi yang pola pikir dan pola sikapnya Islamy, dan ini adalah tujuan pertama dalam sistem pendidikan.

9. Memberikan ‘reward’ bagi yang mampu menahan diri dari berzina dalam situasi yg kondusif untuk berzina.

Tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, Rasul bersabda: …Seorang lelaki yang diajak seorang perempuan cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”… (Mutafaq ‘alaih)

10. Sanksi yang keras untuk pelaku zina.

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [QS. An Nûr : 2]

أَنَّ الْيَهُودَ جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ مِنْهُمْ وَامْرَأَةٍ زَنَيَا فَأَمَرَ بِهِمَا فَرُجِمَا قَرِيبًا مِنْ مَوْضِعِ الْجَنَائِزِ عِنْدَ الْمَسْجِدِ

“Orang-orang Yahudi datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dengan membawa seorang laki-laki dan seorang perempuan yang keduanya berzina. Maka Beliau memerintahkan untuk merajam keduanya di tempat biasa untuk menyolatkan jenazah, disamping Masjid Nabawi”. [HR Bukhory]

Demikianlah aturan-aturan Islam, yang apabila diterapkan secara sempurna maka penyakit masyarakat ini dengan mudah bisa diatasi. Namun bila tidak, maka sama artinya mereka menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah SWT.

Rasulullah bersabda:

إذا ظهر الزنا و الربا في قرية فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله

Jika telah nampak dengan jelas zina dan riba dalam suatu kota, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan adzab Allah atas mereka (HR. Al Hakim dalam al Mustadrak, ia mengatakan  hadits ini sanadnya sahih menurut Bukhari dan Muslim dan mereka berdua tidak mengeluarkannya, Adz Dzahabi juga men sahihkannya). Allahu Ta’ala A’lam. (M. Taufik N.T, sumber: http://mtaufiknt.wordpress.com/2010/07/15/menjauhi-zina/#comment-538

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan Seksual dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Menjauhi Zina

  1. ayuuu berkata:

    assalam….ijin share,,,,aq prnah pnya pacar,,,,semasa pacaran kami sll berantem alasannya krn dia sll melecehkn saya. misalnya mnt ciuman, awalnya gak begitu jalan pacaran 2bln dia udah aneh, saya lalu putuskan dia sebab kalo bertemu sll ingin bgitu, mnrt anda bagaimana. apa saya harus pertahanin.???tp saya amat sangat sayang.

  2. Ken Ahmad berkata:

    Wa’alaikum salam wr wb….
    Semoga Ayu senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Menurut saya, apa yg dilakukan Ayu sudah sangat tepat, yaitu MEMUTUSKANNYA. Dan, jangan coba-coba untuk mengulangi pacaran walau dengan siapapun. Bagi seorang gadis muslimah, pacaran itu sama seperti menawarkan kesucian dan kehormatannya untuk kemudian dinodai oleh seorang lelaki. Jika Ayu masih menganggap kesucian dan keselamatan dunia akhirat sebagai hal utama, maka tinggalkan pacaran. Bagi seorang lelaki muslim, pacaran itu akan mengubahnya menjadi setan, tak perduli walau awalnya ia adalah lelaki sholeh dan berakhlak mulia bak malaikat. Nafsunya tak akan terkendali dalam kubangan nikmat yang semu. Kalau sudah terjebak dalam nikmat durjana (ciuman, pelukan, gesekan, dll), semakin sulit untuk menghindarinya… yang terjadi justru akan ketagihan seperti kecanduan narkoba. Jika gak ciuman dan aktivitas zina lainnya, ia akan sakau. Akhirnya zina menjadi suatu kebutuhan, Na’udzu billahi min dzalik.

    Yang harus Ayu lakukan sekarang, teguhkan hati dan perkuat keimanan. Jika Ayu sayang dia, maka tinggalkan pacar Ayu. Jika jodoh, pasti akan ketemu. Cintailah seseorang karena Allah, bukan hanya sekedar tampang dan manis tutur katanya. Carilah cinta (jodoh) ketika Ayu sudah siap untuk menikah. Jika belum siap menikah, jangan mencoba cinta terlarang itu. Semoga terhindar dari perzinahan.

    Semoga Sukses dunia akhirat. Amin

  3. awal berkata:

    saat ini, banyak wanita yang malah mempertontonkan auratnya. semoga kita diberi kekuatan oleh Alloh swt agar selalu dapat menjaga diri dari perbuatan keji. amiin

  4. Cut berkata:

    assalamualaikum ka..

    mau coment saja..bener kaa..jadi perempuan itu sangat sulit..disaat kita menjaga diri kita sesuai sariat islam..dan menjaga hati kita..tetapi ada saja gangguan-ganguan orang-orang terutama laki2 yg tidak bisa menahan diri melihat wanita..terutama wanita cantik yg sudah berjilbab pun masih saja diganggu..dan tidak menghargai jilbab wanita itu..

    • Ken Ahmad berkata:

      Wa’alaikum salam. Jazakillah udah berkunjung… Ya itulah konsekuensi hidup di zaman di mana aturan islam dalam kehidupan masyarakat tidak diterapkan. Tapi gak usaha khawatir, Allah sesungguhnya akan membalas orang yang istiqomah di zaman tersebut dengan ganjaran ganjaran yang berlipat-lipat (dalam sebuah hadist ada yang mengatakan ganjaran sepeti 50 kali sahabat nabi). Keep istiqomah

  5. Aris berkata:

    permisi quote di FB ya,,, he

  6. No Name berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb….
    salam kenal……..
    cm pngen minta pndapatnya…..sy sngt berpegang dgn hadits Rasulullah saw dimana kita dianjurkan untuk sgr nikah untuk menjauhi zina, dan berpuasa jika belum mampu. olehnya itu, setiap Senin dan Kamis sy berpuasa untk menekan merajalelanya hawa nafsu,,,
    Akan tetapi, mgkn iman sy yg msh lemah, sehingga akhrnya sy ttp jatuh k dlm perzinahan (mencium wanita yg bukan mahrom) dan keesokan harinya sy akhirnya sadar betul akan kesalahan yg sy lakukan dan menyesalinya. Dan sesuai dengan hadits ttg hukum cambuk bagi dosa ringan, saya pun mencambuk diri saya 100 kali cambukan.
    Apakah, tindakan saya (mencambuk diri) ini merupakan tindakan yg diaku agama atau semata hanya tindakan membodohi diri??

    • Ken Ahmad berkata:

      Wa’alaikum salam wr wb.. Zina yang disanksi hukuman cambuk atau rajam adalah zina hakiki (bertemunya alat kelamin laki2 dan perempuan bukan suami-istri). Aktivitas mencium yg bukan mahrom itu pun dosa yg sangat besar karena perbuatan tsb mendekati zina.
      Adapun hukuman bagi org yg zina hakiki adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan (bagi yang belum pernah nikah), sedangkan bagi orang yang pernah nikah maka hukumannya adalah dirazam sampai tewas. Dengan demikian, org yg telah menjalani hukuman tsb akan diampuni dosanya oleh Allah, sehingga di akhirat tidak akan dihisab lagi berkaitan dg perbuatan zinanya. Sungguh azab diakhirat jauh lebih pedih daripada hukuman cabuk atau rajam.
      Apakah hukuman tersebut (dicambuk atau dirajam) bisa diaplikasikan saat ini? Jawabnya tidak bisa, karena yg berhak melaksanakan hukuman tsb adalah pemerintahan islam (daulah islamiyah) melalui para qodhi (hakim) yg telah ditunjukkan oleh amirul mukminin (khalifah). Faktanya saat ini belum ada pemerintahan islam bagi seluruh kaum muslimin.
      Lalu, dg cara apa agar dosa zina ditebus ketika hukum uqubat di atas tidak bisa difungsikan? Yg jelas, kondisi umat sekarang dalam keadaan merugi karena tidak ada pemerintah islam yang menerapkan hukum uqubat yang berfungsi sebagai “pencegah” tejadinya perbuatan dosa dan “penebus” dosa. Jalan satu-satunya agar dosa zina diampuni dengan cara Bertaubat sebenar-benar taubat. Kemudian, jadilah pejuang atau pendukung penegakkan kembali hukum Allah secara kafah melalui daulah islamiyah. Allah yg lebih tau apakah dosa pezina akan diampuni atau tidak. Niat dan kesungguhan kitalah yang menentukan. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s